[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Cogito Ergo Sum: Masihkah Kita "Berpikir" Ada?

Ada yang ganjil, bahkan terasa janggal secara fundamental, di udara yang kita hirup hari-hari ini. Di permukaan, kita hidup dalam karnaval kemajuan yang paling riuh. Kita menggenggam seluruh perpustakaan Aleksandria—bahkan lebih—dalam sebuah lempengan kaca dan logam di saku celana, sebuah portal sihir yang siap membuka gerbang menuju Wikipedia, jurnal ilmiah, dan semesta pengetahuan tanpa batas hanya dengan sekali usap. Kita terhubung secara digital dengan miliaran manusia dalam sebuah jaringan global yang tak pernah terbayangkan oleh filsuf paling optimis sekalipun. Namun, jika kita jujur pada diri sendiri di tengah keheningan malam, kita akan merasakan sebuah kehampaan besar. Mengapa di tengah akses tak terbatas ini, pikiran kita justru terasa lebih sesak dan terkunci dalam sebuah labirin gema? Kita terhubung dengan semua orang, namun mengapa kita justru semakin tuli pada suara yang berbeda, dan hanya merasa nyaman di dalam tempurung kesendirian kita? Inilah sebuah paradoks agung zaman kita: sebuah era surplus informasi yang melahirkan defisit kebijaksanaan akut. Kita tenggelam dalam lautan data yang maha luas, tapi ironisnya kita mati kehausan akan makna, dan yang paling mengerikan dari semua itu adalah kita mulai terbiasa, bahkan menikmati kedangkalan ini sebagai sebuah gaya hidup, sebuah festival kebodohan massal yang dirayakan dengan riang gembira setiap hari.

Padahal, jika kita mau sedikit saja menepi dari kebisingan itu dan menengok album foto sejarah kita yang mulai berdebu, kita akan segera sadar: bukan begini mestinya takdir kita ditulis. Republik ini tidak dirajang dari resep asal-asalan atau lahir dari sebuah kebetulan kosmik. Ia ditempa di ruang-ruang diskusi sempit yang udaranya pengap oleh asap kretek dan api gagasan. Para pendirinya bukanlah gerombolan modal nekat, melainkan para pemikir, para petarung intelektual sejati yang menjadikan buku sebagai pedang dan perdebatan sebagai arena untuk mencari jiwa sebuah bangsa. Akan tetapi, perjalanan sejarah memang tak selamanya terang. Sebuah masa yang panjang dan sunyi kemudian merayap, sebuah zaman di mana akal budi sengaja dibonsai, dipangkas agar tak pernah tumbuh tinggi dan membahayakan. Berpikir kritis dianggap subversif, bertanya dianggap lancang, dan keseragaman menjadi berhala baru yang disembah bersama. Tanpa kita sadari, warisan dari era kelumpuhan nalar itu meresap ke dalam sumsum tulang kita, menjadi sejenis DNA kultural yang melahirkan generasi-generasi yang gamang; sebuah masyarakat yang secara kolektif takut pada ide-ide besar, alergi pada perdebatan yang sehat, dan lebih percaya pada kekuatan slogan ketimbang bobot argumen.

Akibat dari warisan kelam itu? Tak perlu menjadi seorang analis ulung untuk merabanya, sebab getarannya kini terasa di mana-mana, dari layar ponsel di kamar kita hingga ke panggung politik nasional. Sumbu kesabaran kolektif kita memendek hingga nyaris tak terlihat, membuat gesekan paling remeh dalam perbedaan pandangan sontak menjadi kobaran api permusuhan, sementara hoaks yang dibungkus sentimen suci dan dibagikan dengan niat baik menyebar lebih cepat dari kebenaran yang seringkali pahit dan kompleks. Kita saksikan sendiri bagaimana isu-isu krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dari kebijakan ekonomi hingga krisis iklim, direduksi menjadi sekadar perang tagar yang dangkal. Ini bukan sekadar krisis sosial, ini adalah manifestasi dari sebuah krisis di titik paling hulu: krisis cara kita mengolah kenyataan. Sebuah virus kognitif telah menjangkiti kita, virus yang membuat kita alergi pada data yang rumit, fobia pada kompleksitas dunia nyata, dan sebagai gantinya membuat kita jatuh cinta pada candu penyederhanaan yang dungu. Penyakit ini menjalar tanpa pandang bulu, dari grup WhatsApp keluarga yang kita cintai, hingga mimbar-mimbar terhormat yang seharusnya menjadi sumber pencerahan.

Sampai di titik inilah, di sebuah persimpangan peradaban antara kemungkinan untuk lestari atau risiko untuk runtuh, saya teringat sebuah konsep kuno yang nyaris terlupakan. Namanya Trivium, tiga serangkai jalan berpikir—Logika, Gramatika, dan Retorika—yang pernah menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya peradaban-peradaban besar, sebuah seni menempa pikiran yang kini entah terselip di mana dalam laci sejarah kita sendiri. Ini adalah perangkat bertahan hidup paling esensial yang kita miliki sebagai spesies, namun kita lupa pernah memilikinya, apalagi cara menggunakannya. Maka, jalan keluarnya bukanlah dengan mencari slogan baru, pahlawan baru, atau musuh bersama yang baru. Jalan keluarnya adalah dengan kembali menjadi montir bagi mesin mental kita sendiri. Ini adalah sebuah pekerjaan kasar yang menuntut kita untuk berani membuka kap mesin pikiran kita yang berdebu, mengotori tangan kita dengan bias dan asumsi kita sendiri, lalu dengan sabar merakitnya kembali, satu per satu.

Maka, anggaplah tulisan ini sebagai sebuah undangan personal, sebuah tiket yang sengaja diselipkan ke bawah pintu Anda untuk memulai sebuah perjalanan. Sebuah ajakan untuk berhenti menjadi buih yang terombang-ambing tak berdaya di atas ombak informasi, dan mulai menjadi peselancar yang dengan gagah menaklukkannya. Perlu dicatat, perjalanan ini bukanlah audisi untuk menjadi jenius atau kontes menghafal nama-nama filsuf Yunani yang sulit dilafalkan; ini jauh lebih mendasar. Ini adalah soal menjadi waras di zaman yang semakin edan. Tulisan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian yang disebut "Saka" murni dari buah pikiran penulis sendiri. Ini adalah soal menjadi warga negara yang utuh, soal merebut kembali hak paling asasi kita sebagai Homo sapiens: berpikir. Cogito, ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.

Tentu saja, tulisan ini sendiri hanyalah sebuah pemantik. Sebuah tesis yang sengaja dilempar ke tengah riuh untuk memancing reaksi. Sangat mungkin Anda tidak sepakat dengan diagnosisnya. Mungkin Anda melihat ada metafora yang pincang, ada lompatan logika yang gegabah, atau ada argumen historis yang rapuh. Jika demikian, maka tujuan tulisan ini justru telah tercapai. Sebab, pertanyaan pamungkasnya bukanlah apakah Anda setuju dengan saya.

Pertanyaannya adalah: setelah membaca ini, gagasan balasan apa yang kini berkecamuk di dalam kepala Anda untuk membantahnya? Mari, mulailah berpikir dari sana.

Saka I: Akal Budi Pengetahuan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan