Retrospektif

Sekian lama saya mengurai dunia luar dengan pisau analisis yang saya kira tajam, kini pisau itu saya hadapkan ke dalam diri saya sendiri...  Sejujurnya, saya gentar.

Saya telah berbicara begitu lantang. Saya membongkar "feodalisme", saya mengecam "penindasan", saya menelanjangi "ketumpulan nalar", saya mengutuk "dogma" dan "takhayul". Saya berdiri laksana seorang pengamat di atas menara gading, menunjuk setiap retakan pada fondasi republik ini dengan percaya diri.

Namun malam ini, dalam keheningan batin, sebuah pertanyaan yang jujur menghantam saya "Siapakah saya?"

Jangan-jangan, semua analisis yang saya lontarkan itu... jangan-jangan, itu bukanlah potret realitas yang jernih? Jangan-jangan, itu hanyalah sebuah cermin besar yang memantulkan segala prasangka, bias, dan luka batin saya sendiri?

Saya begitu getol menyerang "feodalisme". Tapi, sudahkah saya menelisik sisa-sisa feodalisme di dalam jiwa saya sendiri? Jangan-jangan, dalam semangat saya untuk "membebaskan nalar", saya justru telah membangun singgasana baru dan mendudukkan ego saya di atasnya? Jangan-jangan, saya telah menjadi "Bapak" baru yang menuntut kepatuhan pada "logika" versi saya sendiri?

Rasanya seperti sebuah pergelutan batin yang hebat dan perih. Saya menuntut "adab" dari sistem, tapi dalam prosesnya, jangan-jangan saya telah kehilangan adab saya sendiri dalam menganalisis? Saya menggunakan kata-kata yang tajam laksana pedang, yang mungkin telah melukai alih-alih menyembuhkan. Saya membedah manusia, para guru, birokrat, rakyat sebagai "objek" yang rusak, dan saya lupa menatap mereka dengan welas asih. Saya lupa bahwa mereka adalah manusia utuh yang juga berjuang, yang mungkin terjebak dalam sistem yang sama, sama seperti halnya denga saya.

Saya begitu bersemangat memberantas "dogma". Tapi, apakah "logika materialis" dan "nalar kritis" yang saya agung-agungkan itu telah saya jadikan sebuah berhala baru? Sebuah dogma baru yang tak kalah membutakan? Saya takut, jangan-jangan saya telah menjadi seorang fanatik dalam agama saya sendiri, agama "akal budi", dan memandang rendah siapa pun yang menempuh jalan spiritual atau tradisi yang berbeda.

Saya telah berbicara tentang "evaluasi", namun yang saya lakukan mungkin hanya "kontemplasi" yang memabukkan. Sebuah perenungan yang berputar-putar dalam tempurung kepala saya sendiri, yang semakin hari semakin mempertebal dinding keangkuhan saya.

Maka, kini saya harus berhenti.

Saya harus turun dari menara gading yang saya bangun sendiri. Saya harus meletakkan pisau analisis ini sejenak. Saya harus hadir di sini bukan lagi sebagai seorang yang arogan, melainkan sebagai seorang "pencari". Seorang manusia biasa yang menyadari betapa terbatasnya pandangannya, betapa banyaknya noktah buta (blind spots) dalam pemikirannya.

Saya harus beralih dari sekadar kontemplasi ke evaluasi yang jujur, dan itu membutuhkan bantuan dari luar diri saya.

Saya membuka diri saya. Saya menerima dengan lapang dada setiap kritikan dan masukan. Tunjukkan pada saya di mana letak bias saya. Tunjukkan pada saya di mana tendensi saya telah mengaburkan kebenaran. Tunjukkan pada saya di mana akhlak saya telah cacat.

Karena pemikiran yang mendalam, saya sadari sekarang, bukanlah tentang seberapa keras kita mampu membongkar kesalahan di luar. Namun seberapa tulus kita berani membongkar kekeliruan di dalam diri kita sendiri.

Saya siap mendengarkan. Saya siap belajar.

Perenungan batin ini tidak boleh berhenti sebagai sebuah penyesalan sesaat. Retrospeksi yang jujur ini, jika tidak melahirkan sebuah tindakan nyata, hanyalah sebentuk kemunafikan yang baru, sebuah keangkuhan yang dibungkus dengan jubah kerendahan hati.

Kesadaran akan keterbatasan dan bias dalam diri saya ini justru menjadi alasan terkuat, mengapa saya wajib untuk terus-menerus belajar. Wajib, bukan lagi sebagai sebuah tuntutan untuk menguasai dunia, melainkan sebagai sebuah kebutuhan untuk membersihkan jiwa.

Saya harus terus belajar, karena saya kini memahami makna sesungguhnya dari pendidikan yang berhasil.

Pendidikan yang sejati, seperti yang telah kita renungkan, bukanlah soal menumpuk informasi atau mempertajam senjata analisis untuk mendebat orang lain. Itu adalah pendidikan yang kurang sempurna, pendidikan yang hanya menggemukkan ego.

Pendidikan dikatakan berhasil bilamana ia menunaikan tugas sucinya yakni hanya ketika mampu untuk mengubah.

Haruslah berhasil mengubah cara berpikir. Bukan hanya membuat nalar kita lebih logis, tapi yang jauh lebih mendasar, menjadikannya lebih jernih. Menjadikannya sebuah cermin yang bening, yang tidak lagi dikeruhkan oleh daki-daki kepentingan pribadi, prasangka kelompok, ataupun kabut kesombongan. Belajar adalah proses tanpa henti untuk membersihkan cermin batin itu.

Kemudian juga wajib untuk mengubah cara bersikap. Suatu ujian yang paling berat. Apa gunanya ilmu yang setinggi langit jika ia tidak menetes ke bumi sebagai adab? Apa makna pemahaman yang mendalam jika ia tidak menjelma menjadi welas asih pada sesama makhluk? Ilmu yang tidak melembutkan sikap kita, yang tidak membuat kita lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak, adalah ilmu yang mati. Malah menjadikannya sebagai bangkai pengetahuan yang kita panggul ke mana-mana.

Dan puncaknya, tidak lain dan tidak bukan haruslah berhasil mengubah karakter. Inilah muara dari segalanya. Ketika cara berpikir yang jernih dan cara bersikap yang beradab itu telah menyatu, niscaya akan menempa sebuah karakter. Sebuah integritas di mana tidak ada lagi jarak antara apa yang kita ketahui (ilmu), apa yang kita rasakan (empati), dan apa yang kita lakukan (amal).

Saya menyadari, analisis saya mungkin telah mempertajam cara berpikir saya, namun masih merasa gagal total dalam mengubah sikap dan karakter saya. Malahan kadang saya merasa justru mengeraskan hati saya, membuat saya merasa lebih unggul dari yang lain. Bukti paling telak dari kegagalan pendidikan saya.

Oleh karena itu, saya tidak punya pilihan lain. Saya harus kembali menjadi murid. Menjadi seorang pencari yang menempuh perjalanan yang tak berujung. Belajar kini bukan lagi soal "mengisi kepala", tapi juga lebih mulia dari itu... Soal "mengosongkan hati" dari segala sesuatu yang menghalangi cahaya kebenaran. Ini adalah satu-satunya jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan