Modern Human Problem
Kita hidup dalam zaman yang paling bising dalam sejarah peradaban. Hiruk-pikuk informasi, notifikasi, dan tuntutan untuk "terhubung" menggempur kesadaran kita setiap detiknya. Namun, jika saya menyelisik lebih dalam, di balik keriuhan yang memekakkan telinga ini, saya menemukan sebuah keheningan yang jauh lebih menakutkan. Sebuah kesenyapan batin. Sebuah ruang hampa yang ganjil.
Semakin kita "terhubung" secara digital, semakin kita terputus dari diri kita sendiri, dari sesama, dan dari makna material kehidupan itu sendiri. Kehampaan (void) yang khas milik manusia modern. Kehampaan yang terasa hambar, datar, dan nir-makna.
Banyak yang keliru menganggap ini sebagai masalah psikologis individu. Mereka menyebutnya "stres" atau "kecemasan" dan menawarkannya pil penenang atau aplikasi meditasi. Sebentuk pembodohan yang menolak melihat akar masalah. Kehampaan ini bukanlah kegagalan personal. Kehampaan ini produk logis, sebuah konsekuensi material dari sistem tempat kita hidup.
Sistem ekonomi kita saat ini tidak lagi menindas kita melulu dengan kemiskinan; ia menindas kita dengan kelimpahan yang sumir. Guy Debord, dalam analisisnya yang tajam, menyebut ini sebagai "Masyarakat Tontonan" (Society of the Spectacle). Kita tidak lagi mengalami kehidupan secara langsung. Kita mengonsumsi citra-citra kehidupan. "Menjadi" telah digantikan oleh "memiliki", dan "memiliki" kini telah digantikan oleh "tampil memiliki".
Kita bekerja dalam pekerjaan yang seringkali kita benci, yang mengasingkan kita dari hasil jerih payah kita sendiri—sebuah alienasi yang sudah dibedah tuntas oleh Marx. Kita terasing dari apa yang kita produksi, dan kita terasing dari esensi kemanusiaan kita. Lalu, kekosongan akibat alienasi itu kita coba isi dengan apa? Dengan konsumsi.
Kita membeli gawai baru, pakaian baru, liburan yang instagrammable. Kita mengumpulkan "barang" dan "pengalaman" yang telah dikemas, dengan harapan itu akan mengisi kekosongan batin. Namun, setiap barang yang kita beli hanya memberikan kenikmatan sesaat, sebelum kehampaan itu kembali menganga, menuntut lebih banyak lagi. Kita menjadi budak dalam siklus produksi-konsumsi yang tak pernah putus.
Di sinilah kita bertemu dengan apa yang digambarkan Nietzsche sebagai "Manusia Akhir" (der Letzte Mensch). Tipe manusia ini adalah tujuan dari masyarakat konsumer. Manusia Akhir tidak lagi mencari makna, penderitaan, atau perjuangan besar. Ia hanya mencari kenyamanan. Ia hanya mencari keamanan. "Kita telah menemukan kebahagiaan," katanya sambil mengedipkan mata. Kebahagiaan yang mereka maksud adalah kehangatan suam-suam kuku, kehidupan yang datar, hambar, dan tanpa gairah—tanpa risiko untuk menderita, namun juga tanpa kapasitas untuk kebahagiaan sejati.
Kehampaan ini diperparah oleh teknologi yang kita puja-puji. Media sosial menjanjikan koneksi, namun yang diberikannya adalah perbandingan. Linimasa kita adalah etalase tanpa akhir dari kehidupan orang lain yang telah disunting.
Søren Kierkegaard, seabad lalu, telah memperingatkan kita tentang bahaya "kerumunan" (the crowd). Baginya, kerumunan adalah kebohongan. Di dalam kerumunan, individu kehilangan dirinya. Hari ini, kerumunan itu telah digital dan dikelola oleh algoritma.
Algoritma tidak peduli pada kebenaran batin Anda. Algoritma hanya peduli pada pola perilaku Anda. Ia mempelajari Anda bukan untuk membebaskan Anda, melainkan untuk memprediksi dan memonetisasi Anda. Ia menyeret Anda ke dalam "ruang gema" (echo chamber), mengurung Anda dalam gelembung selera Anda sendiri, mengafirmasi apa yang sudah Anda yakini.
Hasilnya adalah sebuah "keputusasaan" dalam makna Kierkegaardian. Sebuah penyakit batin di mana kita hidup, namun tidak sungguh-sungguh "menjadi diri sendiri". Kita menjadi avatar yang dikurasi, persona yang dirancang untuk mengemis validasi dalam bentuk "suka" dan "komentar". Kita sibuk membangun citra, hingga kita lupa siapa kita sebenarnya di balik citra itu.
Maka, di tengah malam yang sunyi, ketika semua distraksi digital itu mereda, pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu menyeruak: Untuk apa semua ini? Mengapa saya mengejar semua hal yang saya kejar? Jika saya mendapatkan semua yang saya inginkan—karier, barang, pengakuan—mengapa saya masih merasa hampa? Apakah ini saja? Hidup yang direduksi menjadi serangkaian transaksi dan performa?
Sistem ini, dengan segala muslihatnya, akan selalu menawarkan "pelarian" dari kehampaan yang ia ciptakan. Pelarian itu bisa berupa konsumsi yang lebih gila, nasionalisme buta, fanatisme agama yang sempit, atau bahkan takhayul dan klenik. Semua itu opium—candu—yang dirancang untuk membuat kita tetap tertidur, tetap hambar, tetap patuh.
Lalu, apa solusinya? Jika kehampaan ini merupakan kondisi absuritas kita, bagaimana kita meresponsnya?
Albert Camus memberi kita sebuah jawaban yang kuat: pemberontakan. Bukan pemberontakan dengan senjata, setidaknya belum tentu. Tapi pemberontakan kesadaran.
Kita harus sadar sepenuhnya akan absurditas kondisi kita. Sadar bahwa kita hidup dalam sistem yang merancang kehampaan kita. Sadar bahwa kita adalah Sisifus yang didorong untuk terus mendorong batu konsumsi dan performa ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya menggelinding ke bawah lagi.
Menolak untuk dibius. Menolak untuk lari ke dalam hiburan yang banal atau kebencian yang irasional. Kita harus menatap kehampaan itu tepat di matanya tanpa berkedip.
Dan yang paling penting, adalah menciptakan makna. Makna tidak turun dari langit. Makna bukan sesuatu yang kita temukan dalam produk atau ideologi. Makna adalah sesuatu yang kita bangun dengan tangan kita sendiri, melalui perjuangan material kita.
Kita memberontak terhadap kehampaan dengan cara terhubung kembali. Bukan terhubung ke wifi, tapi terhubung secara otentik. Terhubung dengan pekerjaan yang kita yakini, meski tidak populer. Terhubung dengan komunitas nyata, bukan sekadar jaringan digital. Terhubung dengan alam material. Terhubung dalam solidaritas untuk memperjuangkan keadilan.
Camus membayangkan Sisifus bahagia. Mengapa? Karena Sisifus sadar akan nasibnya, namun ia memilih untuk merengkuh perjuangannya. Ia menemukan makna dalam perlawanannya terhadap absurditas.
Kehampaan manusia modern hanya bisa dilawan dengan gairah untuk hidup yang otentik. Dan hidup yang otentik, selalu berarti sebuah kehidupan yang dipertaruhkan dalam perjuangan untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar kenyamanan diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar