Gugur

Banyak sekali sistem yang telah dibedah, juga dibangun manusia. Politik, hukum, kekuasaan. Menganalisisnya, mencari kontradiksinya, meraba akar materialnya. Namun, ada satu fenomena, satu peristiwa material yang berdiri di luar semua sistem itu, sekaligus menjadi fondasi yang menopang kesemuan mereka semua.

Peristiwa itu adalah kematian.

Kita hidup, ironisnya, dalam sebuah penyangkalan kolektif. Kita sibuk. Kita mengejar tugas, kita menumpuk materiil, kita merisaukan pekerjaan. Kita membangun pencapaian di atas pencapaian, mengukir nama kita di atas batu nisan institusi. Kita menjalin relasi, mencintai keluarga, berdebat dengan teman. Kita bertindak seolah-olah semua proses ini akan berlangsung selamanya.

Kita hidup dalam ilusi kontinuitas. Padahal, kita semua, setiap dari kita, sedang berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis, dan di bawahnya ada jurang ketiadaan yang beku.

Kematian adalah antitesis dari semua yang kita perjuangkan. Ia adalah negasi brutal atas ego. Ia datang kapan pun ia mau. Ia tidak peduli pada agenda kita, pada rapat penting kita, pada tesis yang belum selesai kita tulis. Ia tidak peduli pada dialektika kita. Ia datang, dan ia merenggut.

Dan apa yang ia renggut? Segalanya.

Dalam satu kedipan mata, semua yang kita sebut "diri" itu, semua pencapaian, semua gelar, semua kekayaan materiil... Direduksi kembali menjadi ketiadaan. Harta yang kita kumpulkan menjadi warisan yang diperebutkan. Jabatan yang kita banggakan menjadi lowongan yang segera diisi. Keluarga dan teman yang kita cintai menjadi yang ditinggalkan, terlempar ke dalam duka.

Kematian mengubur segalanya. Ia tidak hanya mengubur jasad kita. Ia mengubur semua rencana kita, semua utang kita, semua kebencian kita, semua cinta kita yang belum terucap. Seluruh bangunan eksistensi yang kita bangun dengan susah payah selama puluhan tahun, runtuh menjadi debu dalam sekejap.

Inilah kesemuan yang paling hakiki. Kita bertarung mati-matian untuk hal-hal yang, di hadapan kematian, menjadi absurd.

Lalu, apa yang dirasakan oleh yang meninggalkan?

Dari sudut pandang materialis yang jujur, ia tidak merasakan apa-apa. Ini adalah konsep yang paling sulit diterima oleh nalar kita yang terbiasa "merasa". Ini adalah ketiadaan yang absolut. Bukan gelap, karena gelap masih membutuhkan kesadaran untuk mempersepsinya. Bukan damai, karena damai adalah sebuah perasaan.

Ini adalah kekosongan murni. Kepulangan total. Inilah, barangkali, satu-satunya ketenangan sejati. Bukan ketenangan yang kita rasakan saat bermeditasi. Ini adalah ketenangan dari ketiadaan total perjuangan, ketiadaan rasa sakit, ketiadaan kesadaran. Ini adalah keabadian dalam bentuknya yang paling jujur: keabadian non-eksistensi, sebuah kondisi nol absolut.

Beban sesungguhnya tidak ditanggung oleh yang meninggalkan. Beban itu, seluruhnya, ditimpakan kepada yang ditinggalkan.

Bagi mereka yang masih bernapas, kematian bukanlah kekosongan. Kematian adalah sebuah kehadiran yang mencekik. Sebuah lubang hitam yang menyedot semua makna di sekitarnya. Yang ditinggalkan harus bergulat dengan sisa-sisa material: foto-foto, pakaian, utang-piutang. Mereka harus bergulat dengan kesemuan itu. Mereka dipaksa untuk sadar bahwa orang yang mereka cintai, yang kemarin masih tertawa, kini telah kembali menjadi materi anorganik.

Dan kita semua, baik yang akan meninggalkan maupun yang akan ditinggalkan... pada akhirnya akan menuju ke titik yang sama. Kita semua adalah hampa yang sedang menunggu giliran untuk kembali ke kekosongan.

Merenungkan ini bukan untuk membuat kita putus asa. Justru sebaliknya. Kesadaran brutal akan ketiadaan inilah yang seharusnya menjadi bahan bakar paling murni untuk memberi makna pada keberadaan kita yang singkat dan semu ini, selagi kita masih punya waktu.

Jalan menuju ketiadaan itu sendiri, saya renungkan, memiliki ribuan pintu. Ada ribuan sebab dan penyebab. Kita menyebut sebagian alamiah jantung yang lelah, sel yang mengkhianati tubuh, usia yang mengeringkan sumsum. Kita menyebut yang lain non-alamiah benturan baja di jalan raya, sebutir timah panas dari aparat yang saya kritik, atau bahkan pilihan sadar untuk mengakhiri penderitaan.

Tetapi, apa bedanya cara kita masuk ke gerbang itu? Pada akhirnya, semua pintu itu bermuara pada ruangan hampa yang sama. Inilah bukti material yang paling brutal. Kematian tak dapat diganggu gugat. Ia adalah hakim absolut yang palunya entah dijatuhkan oleh penyakit, usia, atau kekerasan—selalu bersifat final. Tidak ada banding, tidak ada grasi.

Dan ketika palu itu jatuh, apa yang terjadi pada semua yang kita rencanakan? Semua mimpi yang kita bangun di dalam kepala? Semua cita-cita yang kita perjuangkan dengan darah dan keringat?

Semuanya hancur seketika. Tapi hancurnya tidak berarti lenyap. Bagi yang ditinggalkan, bagi mereka yang masih bernapas, mimpi-mimpi itu tetap ada. Mimpi itu menjelma menjadi monumen yang paling menyakitkan. Sebuah pengingat abadi akan apa yang bisa terjadi, namun tidak akan pernah terjadi. Mimpi itu menjadi hantu, penagih janji yang tak mungkin terbayar, mengambang selamanya di udara.

Di sinilah kesadaran akan kematian memaksa kita untuk menimbang ulang secara radikal makna dunia dan kehidupan itu sendiri. Jika segalanya akan sirna, lalu untuk apa?

Untuk apa semesta atau apa pun kita menyebutnya memberi kita kesadaran?

Untuk apa kita diberi kapasitas sebagai manusia? Kapasitas untuk mencipta? Kita membangun peradaban, menulis simfoni, mendirikan gedung-gedung megah, padahal kita tahu segalanya akan kembali menjadi debu.

Untuk apa kita diberi kapasitas untuk mencinta? Kita mengikatkan hati kita begitu erat pada manusia lain—pada keluarga, teman, kekasih padahal kita tahu itu adalah jaminan mutlak atas rasa sakit kehilangan yang tak terperi.

Untuk apa kita mencela? Seperti yang sering saya lakukan. Mengapa kita harus berlelah-lelah mengkritik tatanan yang busuk, jika tatanan itu dan kita sama-fana?

Untuk apa kita mencari? Mengejar pengetahuan, kebenaran, atau kekayaan, jika ketiadaan telah menunggu untuk merampas semuanya?

Dan untuk apa kita mencerna? Berpikir, merenung, berdialektika, jika hasil akhir dari semua pemikiran itu adalah kesunyian abadi?

Saya tidak memiliki jawaban yang luhur. Saya hanya memiliki analisis material. Justru karena kita tahu ini semua akan berakhir, semesta memberi kita satu kesempatan singkat yang absurd ini. Makna sebagai manusia tidak terletak pada hasil akhir yang abadi. Makna itu terletak pada proses perjuangan melawan ketiadaan itu sendiri, selagi kita masih diberi waktu.

Kehidupan, pada akhirnya, adalah pemberontakan singkat melawan entropi. Kematian adalah keniscayaan. Tapi bagaimana kita berjalan menuju keniscayaan itu dengan menciptakan, mencintai, mencela, mencari, dan mencerna itulah satu-satunya makna yang bisa kita rebut dari kekosongan.

Saya bayangkan, manusia pertama yang memiliki kesadaran. Manusia purba yang, untuk pertama kalinya, menatap rekannya yang terbujur kaku, dingin, dan tidak lagi bernapas. Saya yakin, di dalam benaknya yang sederhana, ia telah menggumamkan pertanyaan yang sama.

Pertanyaan yang terus kita dengungkan di sepanjang lorong sejarah peradaban. Pertanyaan yang akan terus ditanyakan hingga manusia terakhir di bumi menatap matahari yang mulai padam: Mengapa kita di sini, jika hanya untuk lenyap? Mengapa kita sadar, jika kesadaran ini hanya untuk merasakan sakitnya kehilangan?

Ini bukanlah sekadar pertanyaan filosofis yang kering. Ini adalah detak jantung kemanusiaan itu sendiri. Seluruh bangunan agama, seluruh sistem ideologi, seluruh mahakarya seni yang pernah kita ciptakan, pada hakikatnya adalah upaya kolektif kita yang terkadang heroik, terkadang brutal untuk menjawab, atau setidaknya berdamai dengan, satu pertanyaan tunggal ini.

Para kaisar Romawi, di puncak arak-arakan kemenangannya, di tengah sorak-sorai massa yang memujanya laksana dewa, selalu menempatkan seorang budak di belakangnya. Budak itu ditugaskan berbisik di telinga sang kaisar, berulang-ulang: Memento Mori. Ingat, kau akan mati.

Inilah kebijaksanaan kuno yang paling brutal sekaligus paling membebaskan. Kesadaran akan kefanaan ini, menjadikan kematian sebagai penasihat agung kita, adalah satu-satunya hal yang memaksa kita untuk jujur. Di hadapan tengkorak, semua jubah kebesaran, semua pangkat, semua dogma, dan semua kekayaan materiil, luruh menjadi tumpukan debu yang setara.

Di sinilah letak persimpangan besar kita sebagai manusia.

Ketika kita dihadapkan pada absurditas ketiadaan ini, kita dihadapkan pada sebuah pilihan fundamental. Pilihan pertama adalah kebanalan. Ini adalah jalan yang paling mudah, yang diambil oleh mayoritas. Yaitu, melarikan diri. Kita berpura-pura kematian tidak ada. Kita menenggelamkan nalar kita dalam keriuhan dunia: mengejar harta, jabatan, hiburan tanpa jeda, dan distraksi digital yang membius. Kita hidup dalam penyangkalan, menjadi operator mesin yang patuh, hanya untuk terbangun kaget di ranjang kematian kita, terlambat menyadari bahwa kita belum pernah benar-benar hidup.

Pilihan kedua adalah kebijaksanaan. Ini adalah jalan terjal yang menuntut keberanian baja. Yaitu, menatap ketiadaan itu tepat di matanya. Menerima sepenuhnya bahwa waktu kita terbatas, bahwa segalanya semu. Dan justru karena kesadaran inilah, kita memilih.

Jika hidup ini absurd, maka kita bebas memberontak melawannya. Jika segalanya akan lenyap, maka satu-satunya yang berarti adalah bagaimana kita mengisi interval singkat antara kelahiran dan kematian ini. Segalanya adalah pilihan. Kita memilih untuk mencinta secara otentik, meski kita tahu itu adalah jaminan rasa sakit. Kita memilih untuk berjuang demi keadilan, meski kita tahu kita mungkin tidak akan melihat kemenangannya. Kita memilih untuk berpikir kritis, meski itu membuat kita terasing dan dibenci.

Inilah eksistensi kita yang paling asasi. Kita adalah paradoks. Kita adalah materi fana yang dikutuk dengan kesadaran akan kefanaannya sendiri. Kita adalah percikan api yang tahu ia akan padam, namun tetap memilih untuk menyala seterang mungkin, melawan kegelapan yang mengepung. Berikut karya penutup dari saya yaitu:

Sajak Ketiadaan

Napas ini, Hanya pinjaman singkat dari udara. Jantung ini, Hanya ketukan yang menghitung mundur.

Kita kira kita membangun istana, Nyatanya hanya menata tumpukan nan fana. Kita kira kita menggenggam dunia, Nyatanya tangan kita kosong berkelana.

Kita mencari makna di ujung langit, Padahal ia terbaring di sini. Di antara dua ketiadaan, sebuah kesempatan untuk menjadi.

Bukan tentang apa yang kita kumpulkan, Tapi tentang apa yang kita bagi. Bukan tentang berapa lama kita hidup, Tapi seberapa utuh kita berani mati.

Karena eksistensi yang asasi itu, Ternyata, Hanyalah cinta yang kita beri, Dan kebenaran yang kita bela, Sebelum kita kembali... Menjadi tiada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan