Aparatus, Anjing Peliharaan
Kepercayaan saya pada institusi kepolisian? Jawabannya nihil. Nol besar. Absolut.
Apa yang sering disebut sebagai "ketidakpercayaan" itu, bagi saya, bukanlah sebuah prasangka. Tapi sebuah kesimpulan rasional dan sifatnya final. Sebuah sintesis logis yang ditarik dari rentetan fakta-fakta biadab yang tak terbantahkan. Saya tidak membenci individunya, banyak dari mereka mungkin manusia baik yang terjebak sistem busuk. Saya membenci aparatus ini, fungsi strukturalnya yang, dalam analisis material saya, bukanlah Pelindong Rakyat, melainkan Anjing Penjaga Kekuasaan dan Oligarki.
Ritual "reformasi Polri" yang didengungkan pasca-1998 adalah sebuah lelucon konyol yang amat tragis. Hanya sebuah kosmetik. Bedak yang luntur oleh keringat arogansi pertama. Slogan Presisi yang mereka banggakan itu adalah sarkasme paling menyakitkan, karena di baliknya saya menemukan presisi dalam merekayasa kasus, presisi dalam memutarbalikkan fakta, dan presisi dalam menghilangkan nyawa.
Saya akan bicara data, bukan sentimen.
Saya tidak perlu jauh-jauh. Cukup saya lihat satu kasus yang membongkar seluruh keborokan mereka hingga ke usus kasus pembunuhan yang diotaki jenderal mereka sendiri. Apa yang saya saksikan? Saya melihat sebuah institusi yang secara default langsung bersekongkol untuk menciptakan narasi palsu. Mereka memanipulasi tempat kejadian, mereka mengintimidasi saksi, dan mereka, ini adalah modus operandi klasik mereka merusak dan mematikan CCTV.
Tindakan mematikan CCTV adalah sebuah metafora sempurna untuk fungsi mereka di republik ini. Fungsi mereka adalah menciptakan kegelapan agar kebenaran tidak terlihat.
Lalu, saya lihat data dari lembaga-lembaga kredibel. Survei-survei nasional, entah itu Litbang Kompas atau Indikator Politik, berulang kali menempatkan institusi ini di dasar jurang kepercayaan publik, bersaing ketat dengan para politisi busuk di parlemen. Ini bukan opini saya; ini fakta sosial. Rakyat sudah muak.
Saya bisa pahami mengapa rakyat muak. Ketika rakyat menuntut hak atas tanahnya, seperti di Wadas atau Rempang, siapa yang hadir di garis depan dengan tameng dan pentungan? Mereka. Ketika 135 nyawa (data resmi Kanjuruhan) lenyap dalam stadion akibat gas air mata yang menurut aturan global sangat amat terlarang, siapa yang menembakkannya? Mereka. Dan siapa yang memutarbalikkan fakta setelahnya, seolah itu adalah kesalahan penonton? Mereka.
Mereka adalah alat represi yang paling efektif. Mereka bukan hanya melakukan kekerasan fisik. Mereka melakukan kekerasan intelektual.
Ketika mahasiswa dan aktivis mencoba berdialektika, mencoba membaca buku-buku pemikiran kiri yang fundamental bagi nalar kritis, siapa yang datang dengan sepatu lars untuk membredel dan merampas buku-buku itu? Mereka. Sebuah institusi yang seharusnya menegakkan hukum, justru bertindak laksana preman anti-intelektual, memberangus gagasan yang tidak mereka pahami.
Mereka adalah ujung tombak kriminalisasi. Saya melihat data dari LBH atau SAFEnet. Undang-Undang ITE yang keji itu tidak akan menjadi senjata yang efektif tanpa "jaksa penuntut" di jalanan: yaitu mereka. Kritik dibungkam dengan laporan polisi. Fakta dilawan dengan pasal karet. Mereka memenjarakan orang-orang yang jujur, sementara para bandit berdasi mereka lindungi.
Kebrengsekan ini sistemik. Patologi ini mendarah daging. Praktik "salah tangkap", yang kemudian diselesaikan dengan penyiksaan untuk memaksa pengakuan, adalah rutinitas harian di kantor-kantor mereka, jauh dari sorotan media. Mereka lebih sering memburu target ketimbang mencari kebenaran.
Maka, saya akan membuat pernyataan pribadi yang jujur, sebagai seorang pemikir yang mencoba bernalar lurus di negeri yang bengkok ini.
Melihat rekam jejak mereka yang begitu kotor dalam merekayasa kebenaran, memanipulasi bukti, dan menghilangkan nyawa kritis, saya harus katakan ini: Jika suatu hari nanti saya ditemukan tertangkap, atau "menghilang", atau pergi dari bumi ini dengan alasan yang tampak "logis" atau "kriminal" yang disodorkan oleh mereka...
Narasi resmi mereka jangan dipercaya sepatah kata pun.
Kebenaran harus dicari di tempat lain. Karena sejarah membuktikan, mereka lebih piawai merangkai dusta ketimbang mengungkap fakta. Mereka adalah antitesis dari keadilan itu sendiri.
Saya justru amat memahami kemuakan itu. Adalah sebuah reaksi nalar yang sehat terhadap sebuah aparatus yang telah berkhianat pada sumpah dan fungsinya sendiri.
Namun, sekadar meneriakkan "hapuskan kroni dan anjing biadab brengsek itu" adalah pelepasan emosi, bukan sebuah solusi material. Kita tidak sedang bicara tentang oknum, tentang apel busuk yang kebetulan jatuh ke dalam keranjang. Kita harus berani berkata jujur: keranjangnya yakni tubuh aparatus itu sendiri memang dirancang untuk membusukkan apel apa pun yang masuk ke dalamnya. Sistem inilah yang secara aktif memproduksi dan melindungi para kroni dan penjilat biadab itu.
Tubuh aparatus ini sakit bukan karena virus dari luar. Sakit karena DNA-nya sendiri. DNA-nya adalah DNA kekuasaan, bukan pelayanan. Sejak ia dipisahkan dari militer, ia tidak pernah sungguh-sungguh menjadi sipil. Ia hanya berganti tuan, dari Panglima TNI menjadi Presiden. Tetaplah alat gebuk politik, sebuah "anjing penjaga" bagi siapa pun yang memegang rantainya di Istana, dan bagi oligarki yang memberi makan tuannya.
Maka, solusi rasionalnya bukanlah "pembersihan internal". Itu hanya sebatas ilusi. Itu sandiwara yang sudah berulang kali kita tonton setiap kali ada skandal besar. "Propam" atau "Irwasum" mereka hanyalah mekanisme internal untuk menyelamatkan muka institusi, bukan untuk menemukan kebenaran material.
Solusi satu-satunya adalah amputasi dan transplantasi struktural. Kita harus menjinakkan alat ini.
Pertama, kita harus memutus taringnya yang paling beracun. Kita harus merumuskan dan memaksakan lahirnya sebuah lembaga pengawas eksternal yang total independen. Lembaga ini harus diisi oleh orang-orang sipil berintegritas yang tak punya loyalitas apa pun pada hierarki kepangkatan mereka dengan wewenang pro-justitia. Sebuah badan yang berhak menangkap, menyidik, dan menuntut aparat brengsek mana pun, dari pangkat terendah hingga jenderal bintang empat, tanpa harus meminta izin "Bapak" Kapolri mereka. Hanya inilah satu-satunya cara menghentikan praktik biadab memutarbalikkan fakta, mematikan CCTV, dan mengkriminalisasi rakyat itu sendiri.
Lalu, dan ini yang paling fundamental, kita harus memutus rantai komando politiknya. Menempatkan institusi bersenjata yang memonopoli kekerasan domestik ini langsung di bawah Presiden adalah sebuah kecacatan desain yang fatal dalam sistem ketatanegaraan kita. Ini menjamin mereka akan selalu menjadi alat kekuasaan, bukan alat hukum. Mereka harus didegradasi dari posisi angkuh itu.
Mereka harus dikembalikan ke khitahnya sebagai penjaga ketertiban sipil. Posisikan mereka di bawah sebuah kementerian, entah itu Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Hukum, di mana anggaran dan kebijakan mereka bisa diawasi secara ketat oleh birokrasi sipil dan diawasi secara politik oleh parlemen. Bukan seperti sekarang, di mana mereka menjadi "kerajaan" sendiri yang anggaran dan perilakunya nyaris tak tersentuh.
Tentu, para jenderal yang terlanjur hidup laksana raja-raja kecil, para kroni busuk yang menikmati rente dari tambang ilegal hingga beking judi online, mereka semua akan melawan. Mereka akan berteriak bahwa ini "melemahkan negara" atau "mengganggu keamanan nasional".
Dengan dusta terbesar yang mereka selalu ulang-ulang.
Tindakan ini tidak melemahkan negara. Ini menguatkan republik. Ini melemahkan cengkeraman oligarki dan premanisme berseragam mereka. Malahn menjadi pertarungan dialektis yang sesungguhnya. Dan itu menuntut tekanan publik yang terorganisir, tanpa henti, dengan nalar yang dingin bukan sekadar kemarahan sesaat yang menguap di media sosial.
Saya telah membentangkan analisis ini dengan nalar paling jernih yang saya miliki. Saya telah menelanjangi kebusukan aparatus yang seharusnya mengabdi pada republik ini.
Saya sadar sepenuhnya akan konsekuensi dari kejujuran intelektual di zaman kegelapan nalar ini. Saya tahu risiko materialnya. Ancaman penjara, intimidasi, pembungkaman paksa, atau bahkan hilangnya nyawa saya sendiri. Semua itu telah saya kalkulasikan. Saya nyatakan di sini, saya tidak takut.
Tubuh ini fana. Raga ini bisa mereka penjarakan, bisa mereka lukai, bisa mereka lenyapkan. Tapi gagasan yang lahir dari nalar yang merdeka tidak bisa mereka borgol.
Maka, ini pernyataan waras saya, sekali lagi saya tekankan. Sebuah wasiat material.
Jika suatu hari nanti saya dinyatakan hilang. Jika suatu hari nanti saya ditemukan tak lagi bernyawa, dengan sebab apa pun yang mereka rekayasa. Dan institusi brengsek itu polisi mengeluarkan sebuah statement resmi...
Entah itu mereka sebut "kecelakaan tunggal". Entah mereka sebut "bunuh diri karena depresi". Entah mereka sebut "korban kriminalitas biasa" atau "sakit mendadak".
Demi Tuhan yang tidak tidur, jangan pernah percayakan satu huruf pun dari lidah mereka yang beracun itu. Itu pasti dusta. Itu pasti sebuah rekayasa pengecut untuk menutupi kebiadaban mereka.
Saya mungkin tidak bisa melawan mereka di dunia material ini jika mereka bertindak licik.
Tapi saya bersumpah. Saya akan tarik mereka yang berbohong atas nama saya itu. Saya akan seret mereka ke neraka.
Komentar
Posting Komentar