Baringan
Malam, bagi sebagian besar umat manusia, adalah sebuah anugerah. Adalah pelabuhan tempat kapal-kapal kesadaran yang lelah akhirnya berlabuh. Kegelapan adalah selimut yang merengkuh, membebaskan raga dari beban gravitasinya, membebaskan nalar dari tuntutan realitas. Dunia menyerah pada lelap.
Namun, bagi saya, dan bagi jutaan jiwa lain yang saya tahu menderita dalam kesunyian yang sama, malam adalah sesuatu yang lain.
Sebuah ruang siksa.
Ranjang ini, yang seharusnya menjadi palung peristirahatan, telah bermetamorfosis menjadi sebuah panggangan. Bantal ini bukan lagi sangkalan kepala yang empuk; melebihi sebongkah batu yang menolak kenyamanan. Saya membalikkan badan ke kiri, mencari posisi yang mustahil. Saya membalik ke kanan. Terlentang. Meringkuk. Setiap posisi hanya menawarkan jeda singkat sebelum raga ini kembali gelisah.
Tubuh saya, raga material ini, menjerit lelah. Otot-otot ini telah bekerja keras, mata ini perih menuntut untuk dipejamkan. Ia telah menunaikan tugasnya seharian. Ia menuntut haknya yang paling asasi: rubuh, padam, dan memperbaiki dirinya sendiri.
Tetapi, di dalam tempurung kepala ini, sesuatu telah berkhianat.
Kesadaran saya, nalar yang saya banggakan di siang hari, kini menjadi tiran yang paling biadab di malam hari. Ia menolak untuk diam. Ia menolak untuk padam.
Di dalam keheningan yang memekakkan ini, sebuah pengadilan digelar tanpa jeda. Pikiran saya tidak sekadar berlari; ia menggempur. Ia menjadi jaksa penuntut yang tak kenal ampun, sekaligus terdakwa yang tak bisa membela diri. Ia memutar ulang setiap percakapan, setiap kekhilafan kata, setiap kegagalan kecil dari hari yang baru saja berlalu. Ia membedahnya, menganalisisnya hingga ke serpihan terkecil, mencari kesalahan yang tak termaafkan.
Lalu, ia melompat ke masa depan. Merancang seribu skenario bencana. Daftar pekerjaan yang belum tuntas esok hari menjelma menjadi monster yang mengancam. Kecemasan-kecemasan eksistensial yang di siang hari berhasil saya tekan, kini berpesta pora di panggung kesadaran saya.
Waktu menjadi musuh utama. Di sudut kamar, detak jarum jam itu terdengar laksana derap sepatu lars tentara yang mendekat. Setiap detiknya adalah sebuah cambukan, sebuah ejekan. Pukul satu dini hari. Pukul dua. Pukul tiga. Malam yang seharusnya menjadi samudra ketenangan, berubah menjadi gurun pasir tandus yang tak berujung. Saya terpenjara dalam interval yang menyiksa antara satu detik ke detik berikutnya.
Saya memejamkan mata dengan paksa. Mencari kegelapan di balik kelopak. Namun yang saya temukan hanyalah keriuhan visual.
Dan musuh terbesar saya pun akhirnya tiba. Semburat pucat di ufuk timur. Sang fajar.
Bagi dunia, fajar adalah harapan. Bagi saya, fajar adalah lonceng kekalahan. Sama halnya seperti pengumuman resmi bahwa saya telah gagal. Gagal dalam tugas biologis paling sederhana. Saya akan bangkit dari ranjang siksaan ini bukan dengan energi yang terbarukan. Saya akan bangkit dengan tubuh yang remuk, diseret oleh kesadaran yang telah disiksa selama delapan jam tanpa henti.
Saya akan berjalan di antara manusia lain laksana mayat hidup, terbungkus dalam kabut tebal, di mana nalar menjadi tumpul dan emosi compang-camping. Sebuah kutukan di mana kesadaran menolak melepaskan cengkeramannya. Sebuah penjara tak terlihat di mana raga memohon untuk pingsan, namun pikiran menolak untuk mati suri.
Para tabib memberi nama klinis yang kering untuk neraka personal yang berulang setiap malam ini. Mereka menyebutnya: Insomnia.
Saya sering merenung, apakah siksaan ini, penjara kesadaran di malam hari ini, adalah monopoli manusia modern? Apakah ini penyakit yang lahir dari lampu neon dan layar digital yang kita puja-puji?
Saya meyakini, tidak. Keyakinan bahwa ini adalah produk sampingan dari kemajuan teknologi adalah sebuah kesombongan historis. Kegelisahan yang menolak lelap ini sama tuanya dengan kesadaran manusia itu sendiri. Sejarah peradaban, jika kita berani membacanya di luar naskah-naskah para raja dan epos-epos kepahlawanan, sesungguhnya juga merekam jejak penderitaan hening ini.
Tentu saja, manusia pra-ilmiah tidak membingkainya dalam bahasa klinis yang kering. Mereka memberinya nama yang lebih puitis, namun sarat dengan takhayul. Mereka menyebutnya "ketempelan", "diganggu arwah penasaran", "dijaga" oleh leluhur, atau mungkin "hukuman dari para dewa". Dalam banyak naskah kuno, kita menemukan ritual-ritual kompleks yang dirancang untuk satu tujuan: memanggil tidur. Para tabib kuno, dukun, atau syaman, tidak membedahnya sebagai kegagalan kimiawi di otak. Mereka melihatnya sebagai sebuah invasi spiritual, sebuah ketidakseimbangan kosmis. Solusi yang mereka tawarkan pun bersifat magis: ritual pengusiran, sesajen untuk menenangkan roh, atau doa-doa penolak bala.
Namun, jika saya menggunakan pisau bedah materialis, saya melihat sesuatu yang lain di balik ritual-ritual itu. Apa yang mereka sebut "roh jahat" itu, bagi saya, adalah personifikasi dari kecemasan yang sangat duniawi. Kegelisahan seorang petani di zaman kuno, yang terjaga semalaman menatap langit-langit gubuknya, bukanlah karena ia diganggu arwah. Ia terjaga karena ia cemas memikirkan apakah musim kering yang berkepanjangan akan membakar habis ladangnya. Ia terjaga karena ia mendengar suara-suara aneh di luar, takut itu adalah gerombolan penjarah atau binatang buas. Ketakutan akan kelaparan, ketakutan akan kekerasan, ketakutan akan wabah, itulah "setan" yang sesungguhnya. Ritual magis itu mungkin berhasil, bukan karena mengusir setan, tapi karena ia memberi ketenangan psikologis, sebuah ilusi kontrol atas nasib.
Pergeseran besar dalam sejarah penderitaan ini terjadi, saya yakini, bersamaan dengan Revolusi Industri. Sebelum mesin-mesin uap itu mendikte ritme kehidupan, tidur manusia jauh lebih cair. Manusia agraris hidup selaras dengan matahari, bukan dengan arloji. Sejarawan telah menunjukkan bukti bahwa tidur kita dulunya biphasic atau polyphasic. Kita mungkin tidur beberapa jam setelah matahari terbenam ("tidur pertama"), lalu terbangun di tengah malam yang hening. Di interval itu, manusia merenung, berdoa, bercinta, atau sekadar menatap api, sebelum akhirnya kembali ke "tidur kedua" hingga fajar.
Kapitalisme industrial, dengan logikanya yang dingin dan predatoris, tidak bisa mentolerir ritme tidur yang cair. Ia menuntut efisiensi. Ia menciptakan tirani jam. Ia menciptakan dogma baru yang kita telan mentah-mentah hingga hari ini yaknk tidur monolitik delapan jam. Manusia harus tidur dalam satu blok yang kaku, agar ia bisa bangun tepat waktu, segar, dan siap menjadi roda penggerak mesin pabrik selama delapan atau dua belas jam berikutnya. Tidur tidak lagi menjadi proses alamiah; ia menjadi sebuah kewajiban industrial. Kegagalan untuk tidur menjadi sebuah dosa ekonomi, sebuah inefisiensi.
Maka, siksaan yang saya deskripsikan sebelumnya kegelisahan menatap jam dinding pukul dua atau tiga pagi adalah penderitaan yang sangat modern. Itu bukan sekadar kegagalan biologis. Itu adalah kegagalan kita untuk patuh pada dogma industrial. Kita cemas karena kita tidak bisa tidur, dan kecemasan itu justru menjadi bensin yang membuat api kesadaran itu terus menyala, membakar sisa-sisa kewarasan kita. Kita adalah korban dari sejarah yang kita ciptakan sendiri, terpenjara oleh ritme mesin yang kini telah merasuk ke dalam otak kita.
Setelah bergelut dengan sejarah dan mekanisme industrialnya, saya lantas sering merenung. Jika siksaan malam ini adalah sebuah keniscayaan, adakah sesuatu yang bisa saya pungut dari tumpukan puing-puing kesadaran yang remuk ini? Adakah semacam "manfaat" tersembunyi dalam kutukan yang berulang ini?
Jika saya harus jujur, dalam analisis yang dingin, jawabannya mungkin ada. Sebuah manfaat yang ironis dan harus dibayar mahal.
Dunia yang lelap adalah dunia yang tidak sadar. Mereka yang tidur nyenyak telah menyerahkan diri pada ketiadaan sementara, bebas dari beban nalar. Namun saya, dan mereka yang senasib, dipaksa untuk tetap sadar. Saya dipaksa menjadi penjaga malam yang enggan atas eksistensi saya sendiri. Di dalam ruang siksa yang hening antara pukul dua dan empat pagi, ketika seluruh distraksi duniawi telah bungkam, yang tersisa hanyalah "Saya" dan pikiran "Saya". Inilah, barangkali, satu-satunya ruang di mana perenungan yang paling jujur, yang paling telanjang, bisa terjadi. Sebuah perenungan yang dipaksakan. Kita menjelma menjadi filsuf yang enggan, dipaksa bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan asasi yang di siang hari berhasil kita tepis dengan kesibukan.
Perenungan ini berbeda. Ini bukan kontemplasi tenang di atas gunung. Ini kontemplasi yang lahir dari kelelahan akut dan keputusasaan. Justru karena nalar kita lelah, filter-filter kepura-puraan sosial kita runtuh. Kita melihat kegagalan kita tanpa polesan. Kita melihat ketakutan kita tanpa topeng. Kita melihat absurditas dari ambisi-ambisi material yang kita kejar di siang hari. Saya sering menemukan, ide-ide paling jernih, kritik paling tajam atas diri saya sendiri, justru lahir di jam-jam terkutuk itu. Sebuah kejernihan yang menyakitkan, yang harus saya bayar lunas dengan kewarasan saya di keesokan harinya.
Namun, "manfaat" filosofis ini hanyalah ironi pahit. Karena di balik perenungan paksa itu, terbaring sebuah realitas yang jauh lebih fundamental dan brutal: ketidakbebasan.
Tidur seharusnya adalah hak biologis yang paling asasi. Bentuk kedaulatan raga yang paling murni. Kemampuan sadar untuk "mematikan" kesadaran, untuk melepaskan kontrol, untuk menyerah secara sukarela. Pengalaman ini membuktikan bahwa kita tidak berdaulat. Kita tidak bebas, bahkan atas saklar di dalam tempurung kepala kita sendiri. Semacam bentuk perbudakan yang paling subtil.
Maka, saya sering berteriak dalam keheningan batin saya: Mengapa saya tidak bisa tidur? Mengapa raga yang lelah ini tidak bisa mengambil haknya?
Pertanyaan itu seringkali dijawab oleh dunia modern dengan solusi-solusi banal: "Jangan minum kopi," "Matikan gawai," "Hitung domba." Bukankah ini adalah sebuah penghinaan terhadap penderitaan nalar ini? Jawaban yang paling masuk akal, yang paling logis dan materialis, jauh lebih suram dan fundamental.
Kita tidak bisa tidur bukan karena raga kita menolak. Kita tidak bisa tidur karena nalar kita, otak kita, telah berevolusi menjadi sebuah mesin pemecah masalah yang tidak bisa dimatikan. Bagi otak purba kita, tidur adalah momen paling rentan. Saat itulah predator bisa menyerang. Otak kita dirancang untuk tetap waspada terhadap ancaman. Di dunia modern, ancaman itu tidak lagi berupa harimau bersembunyi di kegelapan. Ancaman itu telah bermutasi menjadi sesuatu yang abstrak, namun tak kalah mematikan bagi sistem saraf kita: tenggat waktu pekerjaan, tagihan cicilan, status sosial yang terancam, relasi yang retak, atau masa depan ekonomi yang buram.
Bagi nalar primitif kita, semua kecemasan abstrak ini dibaca sebagai ancaman nyata. Otak kita menganggap kita sedang "diburu". Dan dalam kondisi terancam, mekanisme pertahanan logisnya adalah: Jangan tidur. Tetaplah terjaga. Awas.
Maka, terjadilah lingkaran setan yang sempurna. Kita cemas akan masa depan. Kecemasan itu membuat kita terjaga. Fakta bahwa kita terjaga sementara kita tahu kita wajib tidur untuk menghadapi masa depan itu, menciptakan lapisan kecemasan baru yang lebih pekat. Nalar kita, alat terbaik kita untuk bertahan hidup di siang hari, kini berkhianat dan menjadi musuh terbesar kita di malam hari. Ia memakan dirinya sendiri. Kita adalah korban dari kecerdasan kita sendiri, terpenjara dalam ketidakbebasan untuk tidur, dipaksa merenung dalam siksaan, hanya karena kita adalah manusia yang terlalu sadar akan ancaman eksistensinya.
Komentar
Posting Komentar