Reses

Saya sering merenungkan satu kata yang tampaknya begitu sederhana, namun dikejar oleh seluruh umat manusia dengan cara yang paling rumit: Istirahat.

Di permukaan, makna literalnya jelas. Adalah  sebuah kebutuhan biologis yang tak bisa ditawar. Sebuah jeda di mana raga material kita berhenti bekerja, memperbaiki sel-sel yang rusak, dan mengumpulkan kembali energi. Kegagalan kita untuk tidur nyenyak, yang telah kita bedah sebelumnya, adalah bukti paling brutal dari krisis pemenuhan hak biologis ini.
Namun, semakin dalam saya menyelami perilaku manusia, semakin saya yakin bahwa istirahat yang sesungguhnya, ketenangan jiwa nan batiniah yang kita dambakan itu, bukanlah sekadar soal memejamkan mata. Istirahat yang hakiki adalah sebuah kondisi. Sebuah keadaan di mana nalar kita berhenti berperang melawan dirinya sendiri. Sebuah pembebasan sementara dari keriuhan eksistensial, dari gempuran kecemasan, dan dari tirani "harus menjadi sesuatu".

Di sinilah kita menyaksikan sebuah dialektika yang abadi, sebuah kontradiksi yang menjadi motor penggerak hasrat manusia.

Saya mengamati orang kota. Mereka adalah manusia-manusia modern yang terpenjara dalam rimba beton dan ritme mesin yang tak kenal ampun. Mereka memiliki akses pada kemajuan, kecepatan, dan segala muslihat  teknologi. Namun, mereka membayar kemajuan itu dengan nalar yang tergerus, dengan jiwa yang lelah oleh kompetisi predatoris dan polusi informasi.

Bagi mereka, "istirahat" menjelma menjadi sebuah utopia, sebuah kiasan yang mereka proyeksikan ke satu tempat: desa. Desa, dalam imajinasi orang kota, bukanlah sekadar lokasi geografis. Desa adalah sebuah metafora kesucian. Mewakili ritme yang lambat, udara yang bersih, keheningan, dan hubungan yang jujur dengan tanah. Orang kota tidak benar-benar merindukan lumpur sawah; mereka merindukan ketenangan batiniah yang mereka yakini hanya ada di sana.

Lalu, saya membalik lensa saya. Saya mengamati orang desa. Mereka telah memiliki apa yang dirindukan orang kota yakni keheningan, ritme alamiah. Namun, mereka juga hidup dalam realitas material yang lain. Realitas keterbatasan akses, infrastruktur yang seringkali diabaikan oleh negara, dan terkadang, kungkungan tradisi yang ketat. Bagi mereka, keheningan itu bisa menjelma menjadi kebosanan yang melumpuhkan.

Bagi nalar mereka, "kota" adalah metafora harapan. Kota adalah kecepatan, peluang ekonomi, anonimitas yang membebaskan, dan gemerlap dunia modern yang ingin mereka coba. Hasrat mereka untuk "mencoba dunia modern" adalah sebuah reaksi yang sama jujurnya.
Siapa yang benar? Siapa yang salah?

Inilah kekeliruan berpikir yang fundamental jika kita masih terjebak dalam logika biner. Tidak ada yang benar atau salah. Keduanya adalah reaksi yang paling jujur dan paling asasi dari umat manusia. Kita adalah makhluk yang secara alamiah merindukan antitesis dari realitas yang sedang kita jalani. Makhluk yang mendefinisikan "surga" sebagai kebalikan dari "neraka" yang sedang kita alami saat ini. Inilah dialektika hasrat yang murni.

Karena itu, "istirahat" tidak bisa dibakukan dalam satu definisi tunggal. Ia memiliki spektrum yang tak terbatas, bergantung sepenuhnya pada perspektif material individu yang mengalaminya.

Saya bisa saja menyebut "istirahat" adalah momen ketika saya memejamkan mata dan terlelap dalam impian. Itu valid. Seorang buruh pabrik yang berdiri delapan jam penuh mungkin mendefinisikan istirahat sebagai kemewahan merogohkan badan di dipan kayu yang keras, bahkan jika matanya masih terjaga.

Kemudian juga saya bisa saja mengamati seorang mahasiswa yang mana telah otaknya diperas selama tiga jam oleh dosen yang membosankan di ruang kuliah yang panas, ia duduk di kantin. Baginya, "istirahat" yang paling agung saat itu bukanlah tidur. Istirahat baginya adalah sesuap nasi goreng pedas. Dalam momen itu, seluruh dunianya menyempit. Gempuran teori lenyap, yang ada hanya sensasi material di lidahnya. Itulah ketenangan batiniah-nya.

Semua tergantung perspektif. Memahami hal ini adalah langkah pertama untuk berhenti menghakimi pilihan orang lain, dan mulai memahami kondisi material yang melatarbelakangi pilihan tersebut.
Pemahaman bahwa "istirahat" memiliki spektrum seluas itu, dari terlelap hingga sesuap nasi goreng, memaksa saya untuk mengajukan pertanyaan yang lebih fundamental. Jika istirahat adalah sebuah jeda, maka sebuah jeda dari apa?

Di sinilah kita harus berani membongkar sebuah ilusi besar. Kita membayangkan istirahat sebagai sebuah ruang suci, sebuah kedaulatan privat yang kita miliki sepenuhnya. Kenyataannya, dalam tatanan ekonomi-politik kita hari ini, konsep "istirahat" itu sendiri telah dijajah. Telah dikolonisasi.
Sistem industrial, dan kini diperparah oleh kapitalisme digital, tidak hanya membeli delapan atau sepuluh jam kerja kita di pabrik atau kantor. Sistem ini, dengan muslihatnya yang jauh lebih subtil, telah merangkak masuk dan menginvasi dua domain lain yang seharusnya menjadi milik kita sepenuhnya: waktu luang dan waktu tidur.

Saya melihat "istirahat" tidak lagi diperlakukan sebagai hak asasi batiniah yang luhur. Istirahat kini telah direduksi maknanya menjadi sekadar sebuah fungsi teknis. Sebuah proses recovery (pemulihan). Sebuah mekanisme pengisian daya yang niscaya, agar raga dan nalar kita siap untuk dieksploitasi kembali oleh mesin produksi keesokan harinya. Kita beristirahat bukan untuk diri kita sendiri. Kita beristirahat untuk sistem.

Perhatikan bagaimana industri "kebugaran" atau wellness industry meledak nilainya hingga triliunan rupiah. Ini bukan sebuah kebetulan. Gejala yang logis. Kita dibuat begitu lelah secara eksistensial, begitu remuk secara batiniah oleh tuntutan produktivitas yang non-stop. Dan ironisnya, sistem yang sama yang menciptakan penyakit itu, kini menjual "obat"-nya kepada kita dalam kemasan yang cantik.
Ketenangan jiwa nan batiniah tidak lagi dicapai melalui perenungan yang hening atau ikatan sosial yang jujur. Ketenangan itu kini harus dibeli. Ia dijual dalam bentuk aplikasi meditasi berbayar. Ia dijual dalam bentuk staycation mewah di akhir pekan, yang celakanya, justru harus kita sibukkan dengan memotretnya demi validasi di media sosial, sebuah pekerjaan baru yang menciptakan kecemasan baru. Ia dijual dalam bentuk paket tur "healing" yang dirancang sebagai sebuah produk konsumsi.

Istirahat, pada akhirnya, telah menjadi komoditas. Kita bekerja membanting tulang untuk membeli kemewahan beristirahat dari sistem yang merampas waktu istirahat kita sejak awal.
Ilusi istirahat ini semakin dihancurkan oleh gawai yang kita genggam di saku. Dulu, ada pemisahan material yang jelas. Ada dinding pabrik. Ada jam pulang kantor. Ada batas fisik antara dunia kerja dan dunia rumah. Kini, tirani itu bersifat portabel. Ia ada di saku kita.

Notifikasi dari grup pekerjaan masuk di meja makan saat kita sedang bersama keluarga. Email dari atasan datang di tengah malam, merampas ketenangan yang baru saja ingin kita bangun. Bahkan ketika kita mencoba "istirahat" seperti mahasiswa yang makan nasi goreng itu, mata kita mungkin masih terpaku pada layar, nalar kita masih terhubung dengan keriuhan digital.
Istirahat sejati, sebuah kondisi di mana nalar kita benar-benar terputus (off-grid), sebuah kondisi di mana kita diizinkan untuk sekadar melamun atau bosan tanpa merasa bersalah, telah menjadi kemewahan yang nyaris mustahil.

Maka, kita harus sampai pada sebuah kesimpulan yang lebih radikal. Istirahat sejati, dalam konteks dunia modern, bukanlah sekadar tindakan biologis. Istirahat sejati telah menjelma menjadi sebuah tindakan politik. Sebuah pemberontakan hening. Sebuah upaya sadar untuk merebut kembali kedaulatan atas waktu, tubuh, dan nalar kita. Ketenangan batiniah itu, pada akhirnya, bukanlah sebuah produk yang bisa dibeli. Sebuah kemerdekaan yang harus direbut kembali.

Sekarang, kita sampai pada ultimatumnya. Pada pertanyaan terakhir yang paling fundamental. Jika istirahat sejati telah dirampas dari kita, lalu apa yang sesungguhnya kita kejar?

Jawabannya, saya yakini, melampaui sekadar urusan biologis. Pengejaran kita atas istirahat adalah sebuah pengejaran spiritual dalam artian yang paling materialis. Adalah pencarian akan Kesadaran Jiwa yang utuh, yang hanya bisa dicapai melalui satu gerbang terakhir: Kepasrahan.
Mari kita bedah makna "istirahat" ini dalam empat lapisan yang berbeda, untuk menemukan esensinya yang paling murni.

Pertama, adalah istirahat secara definisi harfiah. Kamus-kamus yang dangkal akan menyebutnya sebagai "berhenti dari kegiatan" atau "tidak bekerja". Dapat definisikan bagi seorang mandor, definisi seorang industrialis. Ia hanya peduli pada raga yang berhenti bergerak. Namun, seperti yang telah saya alami dalam siksaan malam, raga bisa saja terbaring kaku di ranjang, namun nalar terus berpacu laksana mesin yang rusak. Jiwa terus berperang. Maka, istirahat harfiah ini seringkali adalah kebohongan. Adalah jeda yang hampa, bukan ketenangan.

Kedua, kita mencari istirahat secara kebahagiaan. Manusia modern, yang dididik oleh "Masyarakat Tontonan", mengira ini adalah momen euforia. Liburan yang hingar-bingar, tawa di pesta, pencapaian target yang memabukkan. Adalah sebuah ilusi. Kebahagiaan semacam ini bising, ia menuntut stimulasi terus-menerus. Ia justru melelahkan. Istirahat sejati, dalam spektrum kebahagiaan, bukanlah euforia. Adalah ketiadaan penderitaan. Sebuah kebahagiaan yang hening, yang datang dari kesadaran bahwa kita, untuk saat ini, tidak lagi mengejar apa pun.

Ketiga, kita masuk lebih dalam: istirahat secara perenungan. Inilah ranah Kesadaran Jiwa yang sesungguhnya. Momen di mana kita berhenti bereaksi secara buta terhadap dunia luar, dan mulai berdialog secara jujur dengan dunia dalam. Sebuah istirahat yang aktif. Seperti yang saya alami, perenungan bisa menjadi neraka jika nalar kita masih liar dan penuh ketakutan. Namun, jika kita berhasil menjinakkannya, perenungan adalah istirahat yang paling agung. Momen di mana kita sadar akan segala kekacauan, segala kesemuan, segala absurditas, namun kita tidak lagi terhanyut olehnya. Kita menjadi pengamat yang tenang atas drama pikiran kita sendiri.

Dan akhirnya, kita tiba pada ultimatum itu. Puncak dari segala istirahat. Istirahat secara keikhlasan. Inilah yang saya sebut sebagai Kepasrahan yang aktif dan sadar.

Saya harus memberi garis batas yang tegas di sini. Ini bukan "kepasrahan" feodal yang nrimo (menerima pasif) pada penindasan. Itu adalah sebuah pembodohan, sebuah kemalasan nalar yang harus kita perangi. Bukan. Kepasrahan yang dimaksud adalah sebuah kesimpulan logis tertinggi dari seorang pemikir materialis.

Sebuah kondisi di mana saya telah berdialektika sekeras mungkin. Saya telah berjuang, saya telah menganalisis, saya telah berusaha mengubah apa yang bisa saya ubah. Dan kini, saya sampai pada satu titik kesadaran yang jujur: ada hal-hal yang mutlak berada di luar kendali saya. Watak orang lain. Hukum alam semesta. Kefanaan saya sendiri. Kematian.

Keikhlasan, atau Kepasrahan ini, adalah sebuah tindakan sadar dan berani untuk melepaskan cengkeraman ego saya dari hal-hal yang memang tidak bisa saya ubah.

Inilah istirahat yang sejati. Ia bukanlah mematikan raga. Ia adalah puncak dari Kesadaran Jiwa. Ia adalah kondisi di mana kita telah berdamai dengan absurditas eksistensi. Kita tidak lagi berperang melawan realitas. Kita menerimanya, dan justru karena penerimaan itulah, kita menemukan ketenangan batiniah yang paling absolut. Kita akhirnya bebas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan