Bungaku
Koes Plus - Bungaku
Bukanlah sekadar rangkaian nada yang mengalun. Lebih dari itu, sebuah naskah kuno tentang riwayat kita semua. Sebuah cermin yang bening, yang memantulkan satu kebenaran purba, satu tragedi sunyi yang terus berulang dalam siklus kehidupan.
Setiap dari kita memulai perjalanan sebagai sang pekebun.
Kita berjongkok di atas tanah gersang, penuh harap. "Tlah lama ku tanam," kita berbisik, seakan mengucap janji pada semesta. Kita menaruh benih itu, benih gagasan, benih cinta, benih sebuah mahakarya. Lalu, dimulailah ritual pengabdian. "Ku sirami setiap hari." Sebuah babak yang penuh gairah. Kita rela menantang terik, "panas takkan mengganggu." Kita mencurahkan segenap jiwa kita, setiap tetes perhatian, setiap embun pagi dari nurani kita. Kita menjaga tunas rapuh itu dari segala mara.
Dan semesta, ia selalu menepati janjinya.
"Sekarang tanaman telah berbunga." Ah, momen itu. Momen sakral ketika segala peluh kita terbayar. Kita berdiri di hadapannya, terpesona oleh keajaiban yang kita bantu wujudkan. "Bunga indah sekali." Kita mabuk oleh keindahan itu. Kita merasa telah mencapai puncak, telah menyelesaikan sebuah tugas luhur. Kita memujinya, "Oh bungaku." Kita telah berhasil. Kita telah mencipta.
Di sinilah, di puncak pencapaian inilah, ironi paling getir seringkali berakar.
Justru ketika keindahan itu mekar sempurna, kita merasa tugas kita telah usai. Kita mengira keindahan itu kini abadi, sebuah monumen kokoh yang tak lagi membutuhkan kita. Kita menganggapnya selesai. Kita pun berbalik, melangkah pergi. Ada puncak lain yang memanggil, ada kebun lain yang tampak lebih menantang.
"Tapi sayang aku lupa."
Dua kata ini. "Aku lupa." Bukanlah menjadikannya sebuah kejahatan yang bising. Namun sebuah kelalaian yang hening. Di mana kelengahan yang merayap masuk laksana kabut senja, pelan, namun pasti menutupi pandangan. Kita tidak membencinya. Kita hanya... tidak lagi mengingatnya.
Dan perenungan saya tertambat pada kalimat berikutnya. Kebenaran yang paling menusuk kalbu.
Lirik itu tidak berkata, "aku lupa menyiraminya." Tidak.
Ia berkata, "aku lupa memperhatikannya."
Betapa dalamnya perbedaan itu. Bunga itu, ia "hampir-hampir dia layu," bukan melulu karena ia kehausan air. Ia layu karena ia kehausan... tatapan. Ia layu karena ia tak lagi disaksikan. Ia layu dalam kesepian. Ia merindukan mata yang dulu menatapnya penuh cinta, tangan yang dulu membelai kelopaknya dengan takjub.
Keindahan, bukanlah benda mati. Sebuah entitas yang hidup. Bernapas dari pengakuan. Mekar dari kesaksian. Bunga yang tak lagi diperhatikan adalah bunga yang kehilangan alasan untuk mekar. Warnanya memudar bukan karena penyakit, tapi karena duka tak terlihat.
Bagi saya, menjadikan sebuah peringatan yang abadi. Berapa banyak naskah yang telah kita lahirkan, kita puji di malam pertama, lalu kita tinggalkan di laci berdebu? Berapa banyak gagasan cemerlang yang kita biarkan layu karena kita "lupa memperhatikannya"?
"Hampir-hampir." Kata itu adalah belas kasihan terakhir dari waktu. Sebuah kesempatan untuk berbalik. Sebuah pengingat bahwa keindahan yang kita ciptakan bukanlah piala, melainkan api yang harus terus dijaga.
Suatu elegi tentang kerapuhan. Kerapuhan cinta, kerapuhan karya, kerapuhan hidup itu sendiri. Yang mengingatkan kita bahwa menumbuhkan adalah sebuah awal. Namun, merawat keindahan yang telah mekar... itu adalah ujian kesetiaan yang sesungguhnya. Sebuah tarian tanpa akhir.
Komentar
Posting Komentar