Cerita Kita
Saya sering mendapati diri saya dalam sebuah ritual yang sama tuanya dengan peradaban itu sendiri. Duduk dalam lingkaran kecil, entah itu di ruang kelas, di warung kopi, atau di bawah temaram lampu malam, mendengarkan. Mendengarkan seorang kawan, seorang rekan, membentangkan apa yang kita sebut sebagai "kisah hidup" atau back story mereka. Terkadang, saya sendiri yang berada di posisi itu, menelusuri kembali jejak-jejak ingatan dan merangkainya menjadi sebuah narasi.
Ada sesuatu yang begitu fundamental dalam pertukaran ini. Sesuatu yang melampaui sekadar obrolan ringan pengisi waktu.
Kita sering terkecoh. Kita menganggap bahwa pengalaman adalah sesuatu yang harus kita alami secara fisik. Kita harus jatuh, baru kita tahu sakitnya. Kita harus kehilangan, baru kita paham artinya. Namun, dalam ritual saling berbagi kisah ini, saya menyaksikan sebuah transendensi yang hening. Kita, sebagai manusia, dianugerahi sebuah kemampuan ajaib yang sering kita sepelekan yaitu kemampuan untuk belajar dari pengalaman orang lain.
Saat seorang kawan menceritakan "satu momen" dalam hidupnya di mana sebuah titik balik yang unik, sebuah keputusan absurd yang mengubah segalanya, sebuah penderitaan yang ia kira hanya miliknya. Kita tidak hanya sedang menerima informasi. Kita sedang melakukan sebuah lompatan empatik. Kita, untuk sesaat, "menjadi" dia. Kita meminjam kesadarannya, merasakan penderitaan proksinya, dan memetik pelajaran dari kejatuhan yang tidak perlu kita alami sendiri. Ini adalah mekanisme bertahan hidup sosial yang paling canggih, sebuah akar antropologis dari kearifan kolektif.
Perilaku ini, jika kita bedah lebih dalam, adalah inti dari kemanusiaan kita. Kita adalah Homo narrans, makhluk pencerita. Mengapa kita punya dorongan tak tertahankan untuk menceritakan kisah kita?
Saya melihatnya sebagai sebuah proses material yang esensial. Kehidupan kita yang mentah adalah sebuah kekacauan. Ia adalah serpihan-serpihan peristiwa acak, emosi yang tak terduga, keberuntungan dan kesialan yang datang silih berganti. Ketika kita "bercerita", kita sedang melakukan pekerjaan yang paling berat. Kita sedang menjadi kurator atas kekacauan kita sendiri. Kita menarik benang merah, kita mencari sebab-akibat, kita memberi makna pada penderitaan. Bercerita, pada hakikatnya, adalah tindakan menciptakan "diri" kita dari bahan baku ingatan yang berserakan. Tanpa narasi, kita bukan siapa-siapa.
Di sinilah letak dialektika yang menarik. Setiap kisah hidup terasa begitu unik, begitu personal. Namun, semakin dalam kita mendengarkan, kita justru tidak menemukan keunikan. Kita menemukan universalitas. Kisah pengkhianatan yang dialami kawan, memiliki pola yang sama dengan epos-epos Yunani kuno. Kisah perjuangan seorang ibu di desa terpencil, menggemakan ketangguhan yang sama dengan para pejuang revolusi.
Kita mendengarkan kisah unik orang lain, untuk menemukan diri kita sendiri di dalamnya. Kita menyadari bahwa penderitaan dan kegembiraan kita bukanlah milik kita seorang. Kita adalah bagian dari sebuah permadani raksasa kemanusiaan yang ditenun dari benang-benang pengalaman yang serupa. Ini adalah fondasi dari seluruh tatanan sosial kita.
Dan perenungan ini membawa saya pada pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang menusuk hulu kesadaran kita: Apakah pada akhirnya kita semua hanyalah "cerita" di masa depan?
Setelah saya merenungkannya dalam-dalam, jawaban saya adalah: ya. Sepenuhnya.
Mengapa? Karena ini merupakan kenyataan material yang paling jujur. Tubuh biologis kita akan membusuk dan kembali ke tanah. Jabatan, harta, dan kekuasaan yang kita kejar-kejar akan menguap laksana embun. Ego kita, kesadaran "Saya" yang kita banggakan ini, akan padam.
Lalu, apa yang tersisa dari seorang manusia setelah ia pergi?
Yang tersisa dari kita hanyalah cerita.
Kita tidak lagi abadi dalam jasad kita. Kita abadi dalam ingatan orang-orang yang kita sentuh. Kita hidup dalam anekdot yang diceritakan di meja makan keluarga. Kita hidup dalam pelajaran yang dipetik oleh seorang kawan dari kesalahan kita. Kita hidup sebagai narasi entah sebagai pahlawan, penjahat, orang baik, orang yang rumit, atau sekadar sebagai pelajaran "jangan seperti dia".
Kita semua, pada akhirnya, akan beralih wujud. Dari pelaku sejarah, menjadi objek cerita.
Kesadaran ini, jika kita benar-benar meresapinya, seharusnya mengubah cara kita menjalani hidup saat ini. Jika kita tahu bahwa satu-satunya warisan kita adalah sebuah kisah, pertanyaan fundamentalnya lantas bergeser. Bukan lagi "Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan?", tapi "Kisah seperti apa yang sedang saya tulis dengan tindakan saya hari ini?"
Kita semua sedang menulis naskah kita masing-masing. Dan kelak, naskah itulah satu-satunya bukti bahwa kita pernah ada.
Jika kita menerima kenyataan material bahwa kita, pada akhirnya, hanyalah gema yang tersisa dalam ingatan orang lain, sebuah "cerita" maka seluruh beban eksistensi ini bergeser. Makna hidup, makna menjadi manusia, tidak lagi kita cari di langit, tidak lagi kita tunggu sebagai wahyu yang turun di saat sunyi.
Makna itu bukanlah sesuatu yang kita temukan. Makna adalah sesuatu yang harus kita bangun dengan tangan kita yang berlumur debu kenyataan, dengan setiap tindakan yang kita ambil selagi kita masih bernapas.
Kesadaran bahwa kita akan menjadi "cerita" memaksa kita menghadapi pertanyaan yang paling fundamental. Apa yang akan kita tinggalkan di muka bumi?
Kita semua, dalam nurani kita yang paling hening, tentu berharap meninggalkan jejak yang baik. Meninggalkan moralitas. Meninggalkan sesuatu yang maknawi, sesuatu yang dianggap layak dan luhur di seluruh penjuru bumi.
Namun, saya harus berhenti sejenak di sini. Sejarah manusia telah mengajarkan saya untuk sangat skeptis dengan kata-kata besar seperti "moralitas" atau "kebaikan".
Kita harus berani bertanya. Moralitas yang mana? Kebaikan versi siapa?
Sejarah adalah kuburan raksasa dari "moralitas" yang dipakai untuk menindas. Para Firaun yang membangun piramida dengan darah ribuan budak, mereka merasa sedang melakukan tindakan "moral" untuk dewa mereka. Para kolonial yang merampas tanah kita, mereka menulis di buku harian mereka bahwa mereka sedang menjalankan "misi suci" untuk mencerahkan bangsa yang terbelakang. Mereka semua merasa meninggalkan "kebaikan".
Tidak. Saya menolak moralitas semacam itu. Moralitas yang abstrak, yang elitis, yang terpisah dari penderitaan material manusia lain, adalah kemunafikan terkeji.
Maka, "kebaikan" yang harus kita tinggalkan, "cerita" yang harus kita tulis, haruslah sesuatu yang jauh lebih membumi. Sesuatu yang sangat material.
Bagi saya, cerita yang maknawi bukanlah cerita tentang seberapa kaya kita, seberapa tinggi jabatan kita, atau seberapa saleh kita terlihat. Semua itu adalah debu yang akan lenyap ditiup angin sejarah. Para kaisar Romawi membangun patung-patung raksasa dari perunggu; yang tersisa kini hanya kepingan-kepingan patah di museum.
Cerita yang akan abadi, cerita yang layak kita perjuangkan untuk ditinggalkan, adalah jejak kita di dalam kehidupan orang lain.
Apakah kehadiran kita di muka bumi ini telah membuat setidaknya satu orang lain merasa lebih ringan bebannya? Apakah nalar kita telah kita gunakan untuk membongkar kebohongan, sehingga satu orang lain bisa melihat kebenaran? Apakah kita telah menanam satu pohon, yang buahnya kelak akan dinikmati oleh musafir yang bahkan tidak tahu nama kita?
Inilah, saya rasa, makna eksistensi yang sejati. Bahkan melampaui ego kita.
Para filsuf Stoik kuno, seperti Marcus Aurelius, merenungkan hal ini dalam kemahnya di tengah peperangan. Ia menulis untuk dirinya sendiri bahwa hidup adalah tentang menjalankan peran kita dalam drama kosmik dengan integritas. Peran kita, sebagai makhluk sosial, adalah berkontribusi pada kebaikan bersama (common good).
Warisan yang kita tinggalkan bukanlah patung. Warisan kita adalah gagasan yang kita tanamkan. Warisan kita adalah keberanian yang kita tularkan. Warisan kita adalah keadilan yang kita perjuangkan, betapapun kecilnya.
Pada akhirnya, "cerita" kita bukanlah sekadar narasi yang sifatnya pasif. Cerita kita berwujud seperti sebuah alat. Sebuah obor yang kita wariskan dari tangan ke tangan. Entah obor itu akan dipakai untuk membakar rumah, atau untuk menerangi jalan yang gelap bagi generasi setelah kita.
Kita semua akan mati. Itulah satu-satunya kepastian. Tapi "cerita" kita, cerita tentang bagaimana kita merespons ketidakadilan, bagaimana kita menggunakan nalar kita, dan bagaimana kita mempraktikkan empati kita. Cerita itulah yang akan terus hidup. Akan terus berdialektika dengan cerita-cerita lain, dan ikut membentuk apa yang kita sebut sebagai "masa depan".
Komentar
Posting Komentar