Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Reses

Saya sering merenungkan satu kata yang tampaknya begitu sederhana, namun dikejar oleh seluruh umat manusia dengan cara yang paling rumit: Istirahat. Di permukaan, makna literalnya jelas. Adalah  sebuah kebutuhan biologis yang tak bisa ditawar. Sebuah jeda di mana raga material kita berhenti bekerja, memperbaiki sel-sel yang rusak, dan mengumpulkan kembali energi. Kegagalan kita untuk tidur nyenyak, yang telah kita bedah sebelumnya, adalah bukti paling brutal dari krisis pemenuhan hak biologis ini. Namun, semakin dalam saya menyelami perilaku manusia, semakin saya yakin bahwa istirahat yang sesungguhnya, ketenangan jiwa nan batiniah yang kita dambakan itu, bukanlah sekadar soal memejamkan mata. Istirahat yang hakiki adalah sebuah kondisi. Sebuah keadaan di mana nalar kita berhenti berperang melawan dirinya sendiri. Sebuah pembebasan sementara dari keriuhan eksistensial, dari gempuran kecemasan, dan dari tirani "harus menjadi sesuatu". Di sinilah kita menyaksikan sebuah dialekt...

Baringan

Malam, bagi sebagian besar umat manusia, adalah sebuah anugerah. Adalah pelabuhan tempat kapal-kapal kesadaran yang lelah akhirnya berlabuh. Kegelapan adalah selimut yang merengkuh, membebaskan raga dari beban gravitasinya, membebaskan nalar dari tuntutan realitas. Dunia menyerah pada lelap. ​Namun, bagi saya, dan bagi jutaan jiwa lain yang saya tahu menderita dalam kesunyian yang sama, malam adalah sesuatu yang lain. ​Sebuah ruang siksa. ​Ranjang ini, yang seharusnya menjadi palung peristirahatan, telah bermetamorfosis menjadi sebuah panggangan. Bantal ini bukan lagi sangkalan kepala yang empuk; melebihi sebongkah batu yang menolak kenyamanan. Saya membalikkan badan ke kiri, mencari posisi yang mustahil. Saya membalik ke kanan. Terlentang. Meringkuk. Setiap posisi hanya menawarkan jeda singkat sebelum raga ini kembali gelisah. ​Tubuh saya, raga material ini, menjerit lelah. Otot-otot ini telah bekerja keras, mata ini perih menuntut untuk dipejamkan. Ia telah menunaikan tugasnya se...

Gugur

Banyak sekali sistem yang telah dibedah, juga dibangun manusia. Politik, hukum, kekuasaan. Menganalisisnya, mencari kontradiksinya, meraba akar materialnya. Namun, ada satu fenomena, satu peristiwa material yang berdiri di luar semua sistem itu, sekaligus menjadi fondasi yang menopang kesemuan mereka semua. Peristiwa itu adalah kematian. Kita hidup, ironisnya, dalam sebuah penyangkalan kolektif. Kita sibuk. Kita mengejar tugas , kita menumpuk materiil , kita merisaukan pekerjaan . Kita membangun pencapaian di atas pencapaian, mengukir nama kita di atas batu nisan institusi. Kita menjalin relasi, mencintai keluarga , berdebat dengan teman . Kita bertindak seolah-olah semua proses ini akan berlangsung selamanya. Kita hidup dalam ilusi kontinuitas. Padahal, kita semua, setiap dari kita, sedang berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis, dan di bawahnya ada jurang ketiadaan yang beku. Kematian adalah antitesis dari semua yang kita perjuangkan. Ia adalah negasi brutal atas ego. Ia da...

Kesemuan Legitimasi

Semakin lama mengamati dan membongkar arsip-arsip peradaban, semakin harus menerima sebuah kenyataan yang tidak nyaman. Kita dibesarkan dalam sebuah ilusi besar. Sebuah dongeng yang sengaja ditulis untuk meninabobokan nalar kita. Dongeng itu bercerita tentang kebaikan yang pasti menang, tentang kejahatan yang pasti dihukum, dan tentang hukum yang adil. Realitas material, sayangnya, menertawakan dongeng itu. Saya telah melihat, dalam catatan sejarah maupun dalam kronik harian, bahwa apa yang kita sebut "baik" dan "jahat" seringkali bukanlah kategori moral yang absolut. Keduanya adalah kategori politis . Keduanya adalah label yang disematkan oleh pemenang perang. Sejarah, pada hakikatnya, adalah narasi yang ditulis oleh para penakluk. Sang penakluk yang membantai ribuan orang untuk merebut tanah akan mencatatkan dirinya dalam buku pelajaran sebagai "pembangun peradaban". Sementara orang-orang yang berani mengangkat senjata untuk mempertahankan sejengkal tan...

Cerita Kita

Saya sering mendapati diri saya dalam sebuah ritual yang sama tuanya dengan peradaban itu sendiri. Duduk dalam lingkaran kecil, entah itu di ruang kelas, di warung kopi, atau di bawah temaram lampu malam, mendengarkan. Mendengarkan seorang kawan, seorang rekan, membentangkan apa yang kita sebut sebagai "kisah hidup" atau back story mereka. Terkadang, saya sendiri yang berada di posisi itu, menelusuri kembali jejak-jejak ingatan dan merangkainya menjadi sebuah narasi. Ada sesuatu yang begitu fundamental dalam pertukaran ini. Sesuatu yang melampaui sekadar obrolan ringan pengisi waktu. Kita sering terkecoh. Kita menganggap bahwa pengalaman adalah sesuatu yang harus kita alami secara fisik. Kita harus jatuh, baru kita tahu sakitnya. Kita harus kehilangan, baru kita paham artinya. Namun, dalam ritual saling berbagi kisah ini, saya menyaksikan sebuah transendensi yang hening. Kita, sebagai manusia, dianugerahi sebuah kemampuan ajaib yang sering kita sepelekan yaitu kemampuan untuk...

Aparatus, Anjing Peliharaan

Kepercayaan saya pada institusi kepolisian? Jawabannya nihil. Nol besar. Absolut. Apa yang sering disebut sebagai "ketidakpercayaan" itu, bagi saya, bukanlah sebuah prasangka. Tapi sebuah kesimpulan rasional dan sifatnya final. Sebuah sintesis logis yang ditarik dari rentetan fakta-fakta biadab yang tak terbantahkan. Saya tidak membenci individunya, banyak dari mereka mungkin manusia baik yang terjebak sistem busuk. Saya membenci aparatus ini, fungsi strukturalnya yang, dalam analisis material saya, bukanlah Pelindong Rakyat , melainkan Anjing Penjaga Kekuasaan dan Oligarki . Ritual "reformasi Polri" yang didengungkan pasca-1998 adalah sebuah lelucon konyol yang amat tragis. Hanya sebuah kosmetik. Bedak yang luntur oleh keringat arogansi pertama. Slogan Presisi yang mereka banggakan itu adalah sarkasme paling menyakitkan, karena di baliknya saya menemukan presisi dalam merekayasa kasus, presisi dalam memutarbalikkan fakta, dan presisi dalam menghilangkan nyawa. ...

Poltiek Indonesia

Jika kita ingin jujur membongkar apa yang kita sebut sebagai "politik Indonesia", kita harus berhenti terpesona oleh hingar-bingar bendera partai, jargon-jargon kampanye, atau sosok-sosok yang dipoles di layar kaca. Semua itu hanyalah tontonan , sebuah fasad yang dirancang untuk mengalihkan perhatian kita. Di balik panggung yang megah itu, mesin yang sesungguhnya bekerja jauh lebih tua, lebih banal, dan lebih korosif. Mesin itu bernama klientalisme . Kita harus memahaminya secara jernih. Politik kita hari ini, dalam praktik materialnya, bukanlah sebuah pertarungan gagasan atau ideologi tentang bagaimana republik ini harus diurus. Politik kita, pada hakikatnya, adalah sebuah jejaring patron-klien raksasa. Sebuah sistem yang diwarisi langsung dari logika feodal, di mana seorang "patron" (sang Bapak, sang pelindung, sang tokoh kuat) membagi-bagikan sumber daya kepada para "klien" (para pengikut, anak buah, atau konstituen). Sebagai gantinya, para klien ini wa...

Retrospektif

Sekian lama saya mengurai dunia luar dengan pisau analisis yang saya kira tajam, kini pisau itu saya hadapkan ke dalam diri saya sendiri...  Sejujurnya, saya gentar. Saya telah berbicara begitu lantang. Saya membongkar "feodalisme", saya mengecam "penindasan", saya menelanjangi "ketumpulan nalar", saya mengutuk "dogma" dan "takhayul". Saya berdiri laksana seorang pengamat di atas menara gading, menunjuk setiap retakan pada fondasi republik ini dengan percaya diri. Namun malam ini, dalam keheningan batin, sebuah pertanyaan yang jujur menghantam saya "Siapakah saya?" Jangan-jangan, semua analisis yang saya lontarkan itu... jangan-jangan, itu bukanlah potret realitas yang jernih? Jangan-jangan, itu hanyalah sebuah cermin besar yang memantulkan segala prasangka, bias, dan luka batin saya sendiri? Saya begitu getol menyerang "feodalisme". Tapi, sudahkah saya menelisik sisa-sisa feodalisme di dalam jiwa saya sendiri? Janga...

Manusia Indonesia

Kita tidak bisa memulai perbaikan apa pun di republik ini jika kita tidak terlebih dahulu memiliki keberanian untuk melakukan pembedahan yang paling menyakitkan. Sebuah pembedahan atas diri kita sendiri, atas karakter kolektif yang kita sebut sebagai "Manusia Indonesia". Berpuluh-puluh warsa silam, seorang pemikir jernih dan berani, Mochtar Lubis, pernah membentangkan sebuah diagnosis yang brutal dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki. Ia mengurai enam watak dasar yang ia amati. Dan hari ini, setelah sekian lama kita berputar-putar dalam jargon "pembangunan" dan "reformasi", kita terpaksa mengakui, diagnosis itu masih relevan secara menakutkan. Bukanlah sebuah upaya menjelekkan bangsa sendiri. Namun juga sebuah bentuk auto-kritik yang paling fundamental, sebuah prasyarat untuk sembuh. Mari kita bedah. Watak pertama yang disebut adalah kemunafikan . Ini adalah penyakit inti kita. Sebuah ketidakselarasan kronis antara apa yang diucapkan di bibir dan apa y...