Pemeran Utama di Sebuah Opera
Sebuah potret yang jujur, nyaris brutal, tentang perjalanan Sisyphus di zaman kita.
Gema dari mitos purba itu. Namun, bukitnya kini terbuat dari aspal, dan batunya... batunya adalah rutinitas itu sendiri.
Bagi saya, kidung ini melukiskan absurditas dari kehidupan modern. Justru menangkap jiwa zaman ini dengan presisi yang dingin. "Masa-masa naik bis kota / Dengan wajah yang sama." Kalimat ini adalah mantra pengulangan. Mungkin menjadi sebuah denyut nadi sang pekerja abadi. Bukan lagi batu yang didorong ke puncak, melainkan tubuh yang diangkut melintasi kota, berulang-ulang, dalam kaleng mekanis yang sama, dikelilingi arwah-arwah lain yang juga sama-sama memanggul beban tak kasat mata.
Dan di tengah repetisi yang memabukkan itu, datanglah kutukan terbesar sekaligus anugerah termulia. Kesadaran.
"Terbesit bisikan di kepala / Keraguan yang kau rasa."
Inilah momen Sisyphus. Momen ketika ia berhenti sejenak di puncak, atau saat ia berjalan menuruni bukit. Momen ketika ia sadar. Ia bertanya. "Untuk apa?" Keraguan itu adalah retakan kecil di dinding penjara, tempat cahaya kesadaran merembes masuk. Keraguan itulah yang membedakan manusia dari mesin.
Lalu, lirik itu membawa kita keluar dari kepala, menuju dunia yang mencerminkan kekosongan di dalam. Pemandangannya bukanlah Tartarus yang berapi. Bukan. Neraka modern jauh lebih subtil. Adalah "liar kucing terbengkalai." dan "halte tua tak beralaskan."
Saya merenung lama pada gambaran itu. Kucing yang terbengkalai. Cermin yang paling jujur bagi sang penanya. Liar, namun terluka. Mandiri, namun terbuang. Ia tak punya alas, sama seperti halte itu, sama seperti jiwa sang komuter yang tak lagi memiliki fondasi kokoh. Dan kita melihat tubuh kita sendiri... "terkulai." Kita adalah kucing itu. Kita adalah halte yang rapuh itu. Kita telah merasakan "asam garam" hingga lidah kita kelu.
Di bagian ini kekacauan itu mencapai puncaknya. "Birama kehidupan mu sedang kacau." Ritme batin kita tak lagi sejalan dengan ketukan jam dinding. Jantung kita memompa dalam irama yang panik, sementara dunia menuntut kita berjalan dalam tempo yang stabil.
Maka, apa yang kita lakukan. Kita bersandiwara.
"Adakalanya berhenti bersandiwara." Mungkin menjadi momen singkat di kamar mandi, di kegelapan bis, saat kita membiarkan wajah kita jatuh. Saat topeng itu kita lepas. Namun, paginya, kita harus "tersenyum bersandiwara." Kita kembali memakai kostum kita. Kita kembali ke panggung.
Dan tepat ketika kita merasa kisah ini adalah tragedi total, kidung ini memberikan sebuah jangkar. Sebuah kalimat agung yang mengubah segalanya.
"Tak sekalipun ku meragukan mu."
Suara siapa ini. Apakah ini suara sang pencipta. Suara semesta. Atau mungkin, suara dari diri kita yang paling dalam, sang Batin yang menyaksikan seluruh perjuangan ini. Suara itu berbisik, di tengah segala keraguan, di tengah kekacauan birama itu... aku percaya padamu.
"Kau pemeran utama di sebuah opera."
Ah. Inilah kuncinya. Inilah pembebasan Sisyphus. Hidup ini mungkin absurd. Mungkin sebuah pengulangan tanpa akhir di atas panggung yang reyot. Mungkin kita hanya tersenyum sambil mendorong batu.
Namun, kita bukanlah figuran. Kita adalah "pemeran utama." Perjuangan kita naik bis kota, keraguan kita yang hening, senyum palsu kita, kucing terbengkalai yang kita lihat... itu semua adalah bagian dari Opera. Kita adalah pahlawan dari absurditas kita sendiri.
Tak hanya menawarkan solusi. Tidak menjanjikan nirwana. Hanyalah menatap Sisyphus modern itu tepat di matanya, dan alih-alih memberinya kasihan, ia memberinya... martabat.
Lagi... dan lagi...
Komentar
Posting Komentar