Foton yang beku

Saya sedang duduk di sini, mencoba merenung, menarik sebuah benang merah dari serpihan-serpihan ingatan yang berserakan. Sebuah kontemplasi atas perjalanan saya sendiri, dari ruang kelas SMP, lorong SMA, hingga ke gelanggang dialektika di kampus ini.

Saya sering memikirkan ini: apa yang sesungguhnya saya bangun?

Semuanya dimulai dari sebuah ketertarikan yang nyaris naluriah. Sebuah hasrat purba yang dimiliki umat manusia: hasrat untuk merekam. Hasrat untuk menghentikan waktu, membekukan momen, dan menipu kematian meski hanya sesaat. Antropolog mungkin menyebut ini sebagai dorongan untuk menciptakan artefak, sebuah bukti bahwa "Saya pernah ada di sini". Bagi saya, dorongan itu menjelma dalam wujud ketertarikan pada teknologi. Pada komputer. Pada sihir digital yang mampu memanipulasi citra, mengedit foto, merangkai video. Dan tentu saja, pada alat utamanya: Kamera.

Kamera, bagi saya, sejak awal bukanlah sekadar mesin. Sebuah perpanjangan mata, sekaligus mesin penyimpan sejarah personal.

Saya menengok ke belakang, ke masa SMP. Saat itu, benih itu baru saja saya semai di tanah yang gembur namun belum saya pahami. Saya ingat betul, dengan antusiasme yang meluap-luap, saya mengikuti perlombaan film pertama saya. Hasilnya? Gagal. Sebuah kegagalan telak. Tapi di sinilah pelajaran pertama itu tertanam. Kegagalan itu tidak mematikan benih; ia justru menjadi filter. Ia menyaring mereka yang hanya ikut-ikutan. Di saat yang sama, ada validasi kecil, sebuah "juara harapan 2" dalam lomba cover. Sinar matahari yang cukup untuk membuat benih itu percaya bahwa ia harus terus tumbuh.

Lalu saya beranjak ke SMA. Di sini, benih itu mulai berkecambah dengan serius. Ia bukan lagi sekadar coba-coba. Saya mulai belajar. Saya terjun ke berbagai kompetisi fotografi dan videografi. Saya tidak lagi sekadar "mengambil gambar". Saya mulai belajar menulis dengan cahaya.

Saya mulai memahami bahasa teknis dari alat ini. Bahwa shutter speed bukan hanya soal terang atau gelap, tapi soal membekukan sejarah atau membiarkannya mengalir puitis dalam motion blur. Bahwa aperture bukan hanya soal depth of field yang estetik, tapi soal memilih fokus, memutuskan secara sadar, bagian mana dari realitas yang ingin saya ceritakan, dan bagian mana yang harus saya biarkan kabur sebagai latar belakang. Proses post-production bukan lagi sekadar "mempercantik", tapi menjadi ruang interpretasi ulang atas realitas yang telah saya rekam.

Memasuki perkuliahan, benih itu telah menjadi pohon muda. Dan ia mulai dituntut untuk berfungsi. Saya menemukan diri saya di Kominfo Himpunan (HIMA) di semester-semester awal. Di sinilah terjadi pergeseran fundamental. Keterampilan teknis seperti mengedit, memotret, merekam, tidak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah seni. Kini menjadi alat untuk sebuah kepentingan kolektif. Menjadi suara organisasi.

Dan kini, saya melihat pohon itu mulai bercabang ke dua dahan yang berbeda, namun saling menopang. Saya menjabat Kominfo di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), sekaligus memegang Sosial Politik (Sospol) di HIMA. Sebuah sintesis yang sempurna.

Di Kominfo BEM, saya adalah arsitek pesan. Saya menggunakan seluruh amunisi teknis yang telah saya kumpulkan sejak SMP. Namun, di Sospol HIMA, saya adalah ideolog. Saya mengasah nalar kritis, membedah realitas sosial, merumuskan sikap politik.

Kini saya sadar. Apa yang saya bangun sedikit demi sedikit ini adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan sustain.

Perjalanan saya di Kominfo dan Sospol bukanlah dua hal yang terpisah. Justru sebaliknya. Keterampilan saya di Kominfo memberi saya senjata untuk memperjuangkan apa yang saya yakini di Sospol. Dan nalar kritis saya di Sospol memberi saya jiwa dan arah atas setiap karya visual yang saya produksi di Kominfo. Saya tidak lagi sekadar mendesain poster; saya sedang merancang propaganda, dalam artian paling murni: menyebarkan gagasan.

Saya melihat dunia kini melalui viewfinder. Saya melihat sebuah isu sosial-politik, dan nalar Sospol saya membedahnya. Lalu, nalar Kominfo saya secara otomatis bekerja: Angle mana yang paling kuat untuk menceritakan ini? Tone warna apa yang harus saya gunakan dalam color grading untuk membangkitkan emosi yang tepat? Framing seperti apa yang akan menggiring opini publik?

Saya kini paham. Benih yang saya tanam di SMP itu, yang gagal di lomba film pertama, kini telah tumbuh menjadi sebuah ekosistem yang mandiri. Ia harusnya sustain karena ia tidak lagi bergantung pada kompetisi. Ia telah menjadi cara saya berpikir.

Setiap foto yang saya ambil adalah sebentuk pembekuan sejarah. Setiap video yang saya edit adalah sebuah manipulasi atas waktu. Ini adalah upaya antropologis. Kita membekukan suka-duka, senyum kawan yang menang advokasi, atau wajah lelah panitia setelah program kerja ke dalam sebuah gambar. Kita menciptakan memori. Karena seperti yang saya yakini, pada akhirnya, kita semua akan lenyap. Yang tersisa dari kita hanyalah artefak. Dan saya, dengan kamera dan nalar saya, telah memilih untuk menjadi salah satu perajin artefak itu.

Pergeseran dari sekadar "Kominfo HIMA" di tahun-tahun awal, menuju persimpangan ganda yang kini saya jalani yaitu Kominfo BEM dan Sospol HIMA bukanlah hanya penambahan jabatan.

Saya merujuknya sebagai sebuah evolusi nalar. Sebuah pendewasaan yang dipaksakan oleh realitas.

Sebagai seorang "seniman" jika saya boleh menggunakan istilah itu entah fotografer, videografer, desainer, saya dulu adalah seorang pemburu forma. Saya terobsesi pada komposisi, pada golden ratio, pada color grading yang sinematik, pada font yang estetik. Saya ingin membekukan suka-duka dalam sebuah frame yang indah. Saya pikir, itulah puncaknya. Saya melihat dunia sebagai serangkaian momen yang harus ditangkap keindahannya.

Lalu, gelanggang Sospol menghantam saya. Ia tidak peduli pada frame yang indah. Peduli pada realita material yang seringkali brutal di luar frame itu. Sospol memaksa saya menggunakan logika dan dialektika. Mengajarkan saya bahwa sebuah foto indah tentang petani di sawah yang high-definition bisa menjadi sebuah kebohongan visual, jika ia tidak menceritakan bahwa petani itu tidak memiliki sejengkal pun tanah yang ia garap.

Di sinilah "ideolog" dalam diri saya lahir. Lahir dari kesadaran bahwa aesthetica tanpa substantia adalah kemunafikan. Malah menjadi pembodohan yang dibungkus dengan indah.

Saya sempat mengalami pergelutan batin yang sengit. Fenomenologi pengalaman saya yang paling krusial. Sang seniman dalam diri saya ingin menciptakan gambar yang pleasing, yang enak dipandang. Sang ideolog menuntut saya untuk jujur pada realita, sepahit dan seburuk rupa apa pun realitas itu. Sang seniman ingin membekukan momen. Sang ideolog tahu bahwa sejarah adalah proses yang terus mengalir, dan membekukan sebuah momen seringkali berarti membunuh konteksnya, memisahkannya dari akar sebab-akibatnya.

Di sinilah pendewasaan itu terjadi. Saya tidak lagi memilih. Saya melakukan sintesis.

Saya sadar, saya bukanlah sekadar desainer. Mungkin saya adalah perancang pesan visual. Saya bukan sekadar fotografer. Saya adalah jurnalis visual yang berpihak. Saya bukan sekadar videografer. Saya adalah propagandis gagasan.

Kini, logika dan dialektika Sospol telah menjadi art director saya. Nalar Sospol-lah yang memutuskan angle mana yang harus saya ambil. Yang memutuskan apakah sebuah gambar harus saya buat high-contrast dan keras untuk menunjukkan pertentangan kelas, atau saya buat low-key dan gelap untuk menunjukkan represi yang sunyi. Ialah yang memutuskan kapan saya harus menggunakan wide lens untuk menunjukkan seorang individu yang kerdil di hadapan sistem, atau close-up ekstrem untuk menelanjangi emosi daripada suatu bentuk penderitaan.

Keterampilan teknis yang saya asah sejak SMP itu... Obsesi saya pada aperture, shutter speed, pada layer mask di Photoshop, pada keyframe di Premiere... Tidak lagi menjadi tujuan. Malahan bertransformasi seluruhnya. Menjadi senjata saya. Menjadi amunisi untuk melayani nalar kritis yang saya bangun di Sospol.

Inilah hakikat pencarian diri saya, setidaknya pada fase ini. Saya menemukan bahwa fenomenologi pengalaman saya adalah sebuah perjalanan dari forma menuju substansia, dan kini menemukan keseimbangan dialektis di antara keduanya. Saya adalah seorang seniman, ya. Tapi seni saya tidak lagi netral. Seni saya tidak lagi hanya mencari keindahan yang banal.

Seni saya harus berpihak. Berpihak pada nalar kritis, pada logika materialis, pada mereka yang suaranya dibungkam oleh frame-frame indah para penguasa. Kehidupan saya adalah upaya abadi untuk menyelaraskan rasa estetik dengan nalar politik.

Saya kini sadar, ini bukan sekadar penemuan diri. Ini adalah sebuah mandat. Sebuah (PR) yang kini harus saya dedikasikan sebagai inti dari eksistensi saya di gelanggang ini.

Jika keterampilan visual seperti halnya fotografi, videografi, desain adalah senjata yang telah saya tempa sejak SMP. Dan jika nalar kritis Sospol adalah amunisi ideologis yang kini saya miliki. Maka, saya tidak punya hak moral lagi untuk menyimpan senjata dan amunisi ini hanya untuk diri saya sendiri.

Dedikasi saya kini jelas: saya harus melakukan preach. Bukan dalam artian dogma agama yang kaku. Saya harus menyebarkan gagasan, menyebarkan metode berpikir. Saya harus menggunakan setiap frame yang saya bidik dan setiap layout yang saya desain sebagai mimbar untuk menyuarakan nalar dialektis. Nalar yang membebaskan pikiran dari kerangkeng-kerangkeng tak kasat mata.

Saya sadar betul, seperti yang Anda katakan, bahwa propaganda visual ada di tangan pemegang kamera. Saya memegang alat itu. Namun, saya tidak boleh naif. Saya tidak beroperasi di ruang hampa.

Medan pertempuran ini sesak. Di seberang sana, para penjaga dogma, para pelanggeng status quo, para agen pembodohan, juga bekerja tanpa henti. Doktrin dan dogma mereka disiarkan setiap detik. Melalui radio yang didengar di angkot. Melalui televisi di ruang keluarga. Melalui mimbar-mimbar agung. Dan kini, mereka merajai algoritma internet yang paling culas. Mereka juga menggunakan visual. Mereka menggunakan framing yang menipu. Mereka menggunakan color grading yang membius. Mereka menggunakan desain yang membangkitkan sentimen irasional.

Jika mereka begitu gencar, saya tidak boleh diam. Saya tidak boleh puas hanya dengan memahami realitas. Saya harus bertindak.

Saya harus selalu menemukan solusi. Saya harus terus-menerus menyebarkan paham-paham yang mengasah nalar ini. Dan di sinilah letak strategi yang paling krusial, yang membedakan perjuangan saya dengan mereka: perjuangan saya harus bersifat mengekspansi, bukan mereduksi.

Apa artinya?

Para penyebar dogma bekerja dengan mereduksi realitas. Mereka menyajikan dunia dalam kotak-kotak biner yang sempit: Baik vs Jahat. Kita vs Mereka. Nasionalis vs Pengkhianat. Beriman vs Kafir. Logika mereka adalah logika pemisahan, logika penyederhanaan yang mematikan nalar.

Pekerjaan rumah saya adalah antitesis dari itu semua. Saya harus mengekspansi nalar. Karya visual saya tidak boleh menawarkan dogma baru. Tidak boleh berkata, "Inilah kebenaran, ikuti saya!" Itu hanya akan menciptakan kultus baru, kerangkeng baru.

Tidak. Karya saya harus mengajukan pertanyaan. Harus menusuk zona nyaman. Harus membongkar realitas yang kompleks. Haruslah juga menunjukkan spektrum, bukan titik biner. Jika mereka menyajikan jawaban jadi, maka propaganda saya harus menyajikan metode untuk mencari jawaban. Jika mereka menyajikan kesimpulan, maka karya saya harus menyajikan dialektika.

Inilah sintesis akhir saya. Sang seniman dalam diri saya menyediakan wadah yang memikat secara estetik. Sang ideolog Sospol dalam diri saya menyediakan isi yang gelisah dan membebaskan. Saya akan terus menjadi perajin artefak, namun kini dengan tujuan yang jelas sebagai perkakas untuk membongkar kerangkeng berpikir di mana pun saya menemukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan