Disfungsi Nalar
Kita bicara soal erosi nalar. Sebuah epidemi kedunguan kolektif.
Saya tidak menggunakan istilah 'bodoh' atau 'goblok' sebagai hinaan. Saya menggunakannya sebagai diagnosis klinis. Kita menyaksikan sebuah teater besar di mana logika formal, di mana kausalitas empiris, seringkali takluk pada sentimen komunal. Di mana etnosentrisme akut dibungkus dalam selimut 'kearifan lokal'. Dan di mana takhayul masih memiliki panggung utama, bahkan di era yang kita sebut revolusi industri 4.0.
Saya menolak tesis bahwa ini adalah karakter bawaan atau takdir kultural. Itu pemikiran yang simplistis, malas, dan berbahaya.
Apa yang saya observasi selama puluhan tahun adalah sebuah desain. Sebuah produk yang dikultivasi secara sistematis. Produk dari sistem pendidikan kita yang lebih mengutamakan hafalan dogma ketimbang dialektika. Kita adalah bangsa yang melatih jutaan penghafal, namun gagal mencetak satu generasi penalar. Kita mengajari 'apa' yang harus dipikirkan, bukan 'bagaimana' cara berpikir.
Walhasil. Nalar kritis mati suri.
Alam, seperti yang kita pahami dari fisika, tidak menyukai kekosongan (abhorret vacuum). Ketika nalar kritis absen dari ruang publik, kekosongan intelektual itu segera diisi oleh dua kekuatan besar yang saling bersekutu.
Pertama. Mistisisme dan Takhayul. Ini bukan lagi sekadar folklor atau warisan budaya yang kita simpan di museum. Ini adalah praktik aktif. Kita melihat fenomena ini di mana-mana. Dari keputusan bisnis dan investasi yang didasari 'bisikan gaib', hingga para politisi yang secara terbuka mencari 'berkah' elektoral di tempat-tempat keramat. Takhayul menjadi mekanisme coping terhadap realitas yang kompleks, brutal, dan tidak pasti. Ia menjadi jalan pintas yang nyaman karena kita tidak pernah dilatih untuk menempuh jalan analisis yang terjal.
Ironisnya. Kita adalah masyarakat yang mampu mengoperasikan gawai canggih, namun menggunakan gawai itu untuk menyebarkan informasi tentang kesurupan massal atau metode pengobatan paling absurd yang menentang biologi dasar. Kita ibarat membangun supercomputer canggih, tapi kita masih menjalankannya dengan sistem operasi berbasis 'cocoklogi' dan 'katanya'.
Kedua. Tradisionisme Akut dan Etnosentrisme. Saya seorang humanis. Saya menghargai sejarah dan akar budaya. Namun, ada disparitas fundamental antara menghargai tradisi dan menjadi budak tradisi. Tradisionisme yang 'akut' adalah tradisi yang menolak interogasi. Ia menjadi dogma. Ia alergi terhadap pertanyaan "Mengapa." Ia menuntut kepatuhan buta.
Etnosentrisme adalah sepupunya yang paling berbahaya. Sebuah keyakinan sempit bahwa suku 'kita', kelompok 'kita', adalah pusat orbit moral dan intelektual alam semesta. Ini adalah mentalitas in-group/out-group paling primitif. Mentalitas ini bukan hanya soal budaya. Ia adalah alat segregasi sosial dan politik yang paling efektif. Ia adalah bensin termurah untuk menyalakan konflik.
Inilah konsekuensi riil di lapangan. Masyarakat yang cacat logika adalah mangsa yang sempurna. Mereka adalah target pasar ideal bagi hoaks. Mereka gampang diadu domba oleh politik identitas. Mereka akan lebih memilih pemimpin yang 'terasa' sama dengan mereka secara sentimen, ketimbang pemimpin yang kompeten secara teknis dan berintegritas. Mereka adalah konsumen ideal bagi segala bentuk pembodohan massal, baik yang berbalut agama, budaya, maupun nasionalisme sempit.
Pada akhirnya. Kita tidak sedang melawan tradisi. Kita tidak sedang melawan budaya. Kita sedang melawan atrofi intelektual. Kita sedang melawan keengganan kolektif untuk bertanya, untuk membedah, untuk meragukan.
Memerangi korupsi itu berat. Kita bicara soal sistem yang bobrok. Namun, memerangi kedunguan yang disistematisasi dan dinormalisasi. Itu adalah front pertempuran yang sesungguhnya.
Sebab. Bagaimana kita bisa menuntut akuntabilitas dan transparansi dari sebuah populasi yang nalar dan logikanya sengaja dibiarkan tumpul sejak mereka masih dalam buaian sistem pendidikan.
Sifat korosif dari erosi nalar ini seringkali kita remehkan. Kita, dalam banyak kesempatan, menertawakannya sebagai 'keunikan lokal' atau 'kekonyolan' kultural yang tidak berdampak signifikan. Saya, berdasarkan observasi empiris, melihatnya secara diametral. Ini bukan kekonyolan yang benigna. Ini adalah pelumas bagi mesin perusak yang jauh lebih besar. Ini adalah asam sulfat yang menetes pelan di atas fondasi baja nalar publik kita. Ia tidak meledak secara dramatis. Ia melubangi secara perlahan, namun pasti.
Mari kita ambil contoh pelik yang sering dianggap sepele. Takhayul dalam penanganan bencana. Saya telah mengobservasi krisis dan bencana alam selama puluhan tahun. Di begitu banyak lokasi, saya masih menyaksikan bagaimana intervensi ilmiah, rekomendasi evakuasi yang berbasis data seismik mutakhir atau pemodelan hidrologi justru dinegasikan, dibatalkan, oleh 'petuah' sang juru kunci atau 'wangsit' yang diklaim diterima tokoh lokal. Data empiris dari badan meteorologi atau geologi dianggap sebagai bentuk arogansi intelektual. Kepatuhan kolektif, ironisnya, lebih diberikan kepada sosok yang mengklaim bisa 'berkomunikasi' dengan penunggu gunung atau 'negosiator' gaib penjaga laut. Apa implikasinya. Nyawa manusia dipertaruhkan di atas altar irasionalitas. Upaya mitigasi bencana yang dirancang mahal dan saintifik menjadi impoten total. Ini bukan lagi soal pelestarian budaya. Ini adalah degenerasi fungsional. Kita memiliki sains, kita memiliki teknologi. Namun kita secara sadar memilih untuk tidak menggunakannya. Kita memegang GPS yang akurat, tapi kita bersikeras mengikuti arah terbang burung gagak yang kita anggap sebagai pertanda.
Sekarang kita geser ke ranah birokrasi dan politik. Kita saksikan bagaimana tradisionisme akut dan etnosentrisme bekerja merusak sistem. Dalam ruang politik dan administrasi publik, ini adalah bencana laten. Saya mengamati di banyak daerah, bagaimana rekrutmen aparatur, promosi jabatan, hingga alokasi proyek, masih sangat kental dipengaruhi oleh kesamaan primordial. Asas 'orang kita' jauh lebih urgensial ketimbang prinsip kompetensi. Birokrasi kita tidak diisi oleh kaum meritokratik yang teruji kapasitasnya. Diisi oleh 'suku' yang dominan, oleh alumni almamater yang sama, oleh jaringan keluarga besar. Efek korosifnya merambat seperti jamur di dinding yang lembab. Institusi publik menjadi tumpul. Kebijakan tidak lagi dirancang berdasarkan analisis data objektif untuk kemaslahatan publik. Kebijakan dirancang untuk melayani in-group terlebih dahulu. Keadilan sosial terdistorsi di titik awalnya. Kita, sebagai sebuah bangsa, tidak mendapatkan menteri, gubernur, atau direktur terbaik. Kita hanya mendapatkan "perwakilan terbaik" dari kelompok tertentu yang sedang berkuasa. Inilah yang saya sebut sebagai degenerasi meritokrasi, sebuah pembusukan sistematis atas kapasitas tata kelola.
Bahaya paling nyata di era digital ini tentu saja adalah cacat logika yang telah menjadi epidemi. Kita adalah salah satu konsumen hoaks dan disinformasi terbesar di planet ini. Mengapa. Sebab fundamentalnya, sistem pendidikan kita tidak pernah melatih nalar kritis. Kita tidak diajari membedakan korelasi (dua hal terjadi bersamaan) dengan kausalitas (satu hal menyebabkan hal lain). Kita adalah korban abadi dari kesesatan berpikir post hoc ergo propter hoc. Seorang pejabat membangun jembatan, dan dua hari kemudian harga cabai di pasar turun. Publik yang cacat logika akan serta-merta menghubungkan keduanya. "Sejak dipimpin beliau, harga menjadi murah." Padahal kedua peristiwa itu mungkin sama sekali tidak memiliki relasi kausal. Ini adalah kegagalan nalar dasar yang dieksploitasi tanpa ampun.
Sifat korosif dari cacat logika ini adalah ia membunuh diskursus publik. Ruang bicara kita bukan lagi sebuah arena adu argumen yang berbasis data. Ia telah terdegradasi menjadi arena adu sentimen dan adu kekerasan verbal. Polarisasi politik yang merobek-robek kohesi sosial kita hari ini adalah produk langsung dari kedunguan yang dikapitalisasi. Para demagog politik, para penipu, para penjual obat palsu, mereka tidak perlu program kerja yang rumit atau berbasis bukti. Mereka hanya perlu melempar narasi emosional yang sederhana, yang menyasar langsung sentimen primordial dan cacat logika audiens mereka. Inilah degenerasi yang sesungguhnya. Ketika takhayul membunuh efektivitas mitigasi bencana. Ketika etnosentrisme membunuh meritokrasi pemerintahan. Dan ketika cacat logika membunuh demokrasi itu sendiri. Ini adalah sebuah ekosistem pembusukan yang saling mengunci dan saling memperkuat. Sifat korosif paling akhir dari semua ini adalah ia membuat kita nyaman dalam ketidaktahuan. Kita menjadi bangsa yang sibuk mempertahankan 'identitas' sambil membiarkan kapasitas intelektual kita terkikis habis.
Kita kini memasuki zona operasional. Wilayah di mana erosi nalar, etnosentrisme, dan takhayul yang telah kita bedah tadi tidak lagi hanya menjadi sebuah kondisi pasif. Ia telah menjadi instrumen. Sebuah senjata. Inilah pasar gelap di mana 'ketersinggungan' komunal diperjualbelikan sebagai alat pemaksa, alat kriminalisasi, dan bahan bakar utama untuk perang psikologis. Sensitivitas budaya dan adat, yang pada mulanya adalah mekanisme pertahanan identitas yang wajar, telah dimanipulasi sedemikian rupa. Ia kini berfungsi ibarat ranjau darat yang ditanam di sekujur lanskap sosial kita. Siapapun yang salah menginjak, atau bahkan sekadar menginterogasi keberadaan ranjau itu, akan diledakkan dengan tuduhan penistaan, penghinaan, atau anti-kearifan lokal.
Saya melihat ini terjadi berulang kali di lapangan. Ini adalah sebuah pola. Sebuah playbook yang dieksekusi dengan presisi. Aktor-aktor tertentu, baik itu elite politik, pemuka adat, atau 'preman' budaya, secara sadar mengkapitalisasi mentalitas in-group yang sempit ini. Mereka memposisikan diri sebagai penjaga gerbang moralitas suku atau tradisi. Mereka secara sengaja mempersempit ruang toleransi. Mereka menciptakan definisi yang kaku tentang "apa itu" menjadi bagian dari kelompok 'kita'. Konsekuensinya. Setiap kritik. Setiap analisis rasional. Setiap pertanyaan yang mencoba membedah sebuah tradisi yang mungkin sudah tidak relevan secara fungsional. Akan segera dibingkai ulang. Bukan sebagai diskursus intelektual, melainkan sebagai agresi eksistensial. Sebagai serangan langsung terhadap seluruh kehormatan suku atau marwah adat.
Inilah mekanisme 'kriminalisasi' yang sesungguhnya. Ia tidak selalu membutuhkan hukum formal, meskipun kita tahu instrumen hukum seperti pasal penistaan seringkali dibajak untuk ini. Kriminalisasi yang paling efektif justru terjadi di level sosial. Seseorang yang mempertanyakan efektivitas ritual tolak bala ketimbang vaksinasi, misalnya, tidak hanya akan dicap 'bodoh' secara ilmiah. Di tangan para manipulator ini, ia akan divonis sebagai 'penghina leluhur', 'kacang lupa kulit', atau 'agen modernisasi Barat yang ingin menghancurkan identitas kita'. Ini adalah hukuman sosial. Sebuah persekusi psikologis yang menciptakan efek jeri (chilling effect) yang masif. Tujuannya satu. Mematikan nalar kritis sebelum ia sempat dilahirkan.
Kita tidak sedang membicarakan perang antar suku dalam arti fisik seperti di masa lampau. Kita membicarakan perang psikologis yang jauh lebih laten dan korosif. Hingar bingar yang kita saksikan di media sosial. Saling lapor. Saling hujat antar-pendukung 'kearifan' yang berbeda. Itu bukan keributan organik. Itu adalah simfoni yang diorkestrasi. Itu adalah manifestasi dari ketakutan kolektif yang sengaja dipelihara. Ketika satu kelompok takhayul merasa superior atas kelompok takhayul lainnya. Ketika satu etnis merasa berhak mendefinisikan standar moralitas bagi etnis lain. Kita menciptakan sebuah arena gladiator di mana yang bertarung bukanlah gagasan. Yang bertarung adalah ego komunal yang terluka. Sebuah ego yang sengaja dibuat sangat tipis kulitnya, sangat mudah tersinggung, agar ia gampang diprovokasi dan dimobilisasi untuk kepentingan elektoral atau ekonomi sang manipulator. Inilah degenerasi paling akhir. Ketika identitas kita, alih-alih menjadi sumber kekayaan batin, justru menjadi senjata paling mematikan untuk membungkam akal sehat kita sendiri.
Maka kita tiba pada lapisan tergelap dari patologi ini. Sebuah ruang di mana kemunafikan dilembagakan. Kita tidak lagi berbicara tentang masyarakat awam yang tersesat dalam takhayul. Kita kini menyorot para arsitek kebutaan itu sendiri. Kaum hipokrit. Spesifiknya, para agamawan yang beroperasi persis seperti politisi yang paling licik.
Saya telah menyaksikan fenomena ini dalam spektrum yang begitu luas. Ini adalah teater kemunafikan di mana moralitas menjadi komoditas yang paling fleksibel. Kita melihat figur-figur yang jubah dan retorikanya membahana soal kesucian wahyu. Namun dalam praktik keseharian, wahyu itu ditundukkan. Ia dilipat, dipelintir, dan disesuaikan agar pas dengan bingkai sempit tradisi, atau lebih buruk lagi, kepentingan golongan mereka. Ini adalah bentuk penyembahan berhala yang paling canggih. Bukan lagi batu atau pohon yang mereka tuhankan. Yang mereka tuhankan adalah kultus mereka sendiri. Golongan mereka sendiri.
Ketika tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip keadilan universal yang diusung wahyu dipertahankan mati-matian. Ketika kitab suci dibajak menjadi justifikasi untuk menindas yang lemah atau mengkafirkan yang berbeda. Saat itulah kita tahu bahwa agama telah mati. Yang tersisa hanyalah cangkang ritualnya. Sebuah identitas komunal yang kosong dari substansi spiritual. Mereka ini, para munafiqun modern, adalah pedagang sentimen yang paling berbahaya. Mereka menjual ilusi surga sambil meracuni nalar pengikutnya di dunia.
Kebutaan mereka terhadap kemelaratan moral dan intelektual di sekeliling mereka bukanlah sebuah kebetulan. Itu adalah sebuah desain. Sebuah prasyarat. Mereka membutuhkan umat yang dungu secara intelektual. Mereka membutuhkan audiens yang cacat logika. Mengapa. Karena nalar kritis adalah musuh utama bagi otoritas mereka yang palsu. Pengikut yang kritis akan bertanya. Pengikut yang kritis akan membandingkan retorika mereka dengan tindakan mereka. Dan pengikut yang kritis akan melihat disparitas yang menganga itu. Oleh sebab itu, nalar harus dimatikan sejak dini. Diganti dengan kepatuhan buta atas nama 'taat' atau 'berkah'.
Tentu saja, para agamawan hipokrit ini tidak beroperasi sendirian. Mereka hanyalah manajer lapangan. Di balik layar, kita menemukan orkestrasi yang jauh lebih besar. Para elite politik, para oligarki, adalah dalang sesungguhnya. Mereka memahami dengan sempurna apa yang pernah dikatakan Marx, bahwa agama adalah candu.
Para elite ini secara sadar membiayai. Melindungi. Dan mempromosikan figur-figur agamawan yang paling reaksioner dan intoleran. Bukan karena para elite itu religius. Jauh dari itu. Saya telah makan malam dengan banyak dari mereka. Keyakinan mereka yang sesungguhnya adalah pada profit dan kekuasaan. Mereka membiayai pembodohan massal ini karena itu adalah investasi politik termurah dengan return tertinggi. Mereka menukar sumber daya dengan loyalitas buta. Mereka mendapatkan massa yang mudah dimobilisasi. Massa yang kemarahannya bisa diarahkan ke 'musuh' yang diciptakan. Entah itu etnis lain, agama lain, atau ideologi lain.
Walhasil. Kita terjebak dalam siklus setan. Elite politik merusak sistem ekonomi dan hukum. Kaum agamawan munafik merusak nalar dan moral publik. Keduanya bekerja dalam simbiosis mutualisme yang sempurna. Menghasilkan sebuah populasi yang miskin secara materi, namun kaya akan amarah. Sebuah populasi yang buta terhadap korupsi masif di depan mata mereka, namun sangat sibuk mengurusi moralitas privat orang lain. Inilah puncak dari degenerasi. Ketika lembaga moral menjadi agen utama pembusukan.
Kita telah menuntaskan sebuah otopsi. Sebuah diseksi mendalam terhadap empat kuadran patologi akut yang hari ini mendefinisikan realitas kita.
Pertama kita menelanjangi korupsi sistemik. Sebuah kanker struktural yang tidak lagi beroperasi di bayangan namun telah menjadi prosedur operasi standar.
Kedua kita membedah fondasi tempat kanker itu tumbuh subur. Erosi nalar kolektif. Sebuah epidemi kedunguan, takhayul, dan tradisionisme akut yang sengaja dikultivasi oleh sistem pendidikan kita yang gagal.
Ketiga kita mengamati bagaimana kelemahan intelektual itu dieksploitasi. Ketersinggungan komunal dan etnosentrisme diubah menjadi senjata. Menjadi alat kriminalisasi sosial dan bahan bakar perang psikologis untuk mematikan nalar kritis.
Keempat kita menyorot arsitek di balik semua ini. Simbiosis maut antara elite politik yang butuh pengalih perhatian dan kaum agamawan hipokrit yang butuh massa yang patuh. Orkestrasi pembodohan massal untuk pelanggengan kekuasaan.
Sekarang kita berdiri di akhir observasi ini. Apa kesimpulannya. Jelaslah bahwa ini bukan empat masalah terpisah. Kita tidak sedang menghadapi empat penyakit yang berbeda. Kita sedang menatap satu sindrom kegagalan total.
Kita menyaksikan sebuah ekosistem pembusukan yang sempurna dan tertutup. Sebuah lingkaran setan yang saling mengunci dan memberi makan.
Begini cara kerjanya. Korupsi masif para elite membutuhkan pengalih perhatian. Pengalih perhatian termurah dan paling efektif adalah sentimen primordial dan agama. Sentimen ini hanya akan laku keras di pasar yang nalarnya sudah tumpul dan cacat logika. Penumpulan nalar dan pembodohan massal ini kemudian dilegitimasi. Diberi stempel moral oleh para agamawan munafik yang telah bersekutu dengan kekuasaan. Yang pada gilirannya, loyalitas massa yang sudah buta nalar itu kembali menyokong elite korup untuk terus berkuasa.
Selesai. Lingkaran tertutup. Sebuah mesin gerak abadi (perpetual motion machine) yang memproduksi kemelaratan moral dan intelektual.
Lalu solusi apa yang tersisa bagi kita. Setelah diagnosis yang begitu suram. Saya tidak akan menawarkan optimisme buta. Saya menolak menjual ilusi tentang satu pemilu lagi. Atau harapan pada satu pahlawan tunggal. Itu semua adalah bagian dari penyakit. Solusi parsial hanya akan memperpanjang penderitaan. Memperbaiki undang-undang atau mengganti pejabat adalah ibarat mengecat ulang dinding rumah yang fondasinya sudah ambrol dimakan rayap.
Jika kita serius ingin membumihanguskan patologi ini. Kita harus menyerang hulu dari segala hulu. Kita harus mengintervensi titik di mana bahan baku kedunguan itu diproduksi secara massal.
Solusinya hanya satu. Sebuah revolusi nalar.
Ini adalah pekerjaan yang tidak heroik. Ia sunyi. Ia lambat. Ia menuntut stamina lintas generasi.
Kita harus merombak total kurikulum pendidikan nasional kita. Kita harus berhenti memproduksi jutaan penghafal dogma dan ayat. Kita harus mulai mencetak generasi penalar kritis. Logika formal. Filsafat etika. Dan metode ilmiah dasar harus menjadi menu wajib sejak sekolah dasar. Bukan sebagai mata pelajaran sampingan. Tapi sebagai jantung dari seluruh proses belajar. Kita harus mengajari generasi baru cara berpikir. Bukan apa yang harus dipikirkan. Kita harus melatih mereka untuk alergi secara biologis terhadap kesesatan berpikir.
Paralel dengan itu. Kita butuh keberanian yudisial dan legislatif. Amputasi semua instrumen hukum yang mengkriminalisasi nalar. Cabut pasal-pasal karet penistaan dan ujaran kebencian yang selama ini dibajak untuk membungkam kritik dan membela takhayul. Ruang diskursus harus dibuka seluas-luasnya. Biarkan ide yang buruk mati oleh ide yang lebih baik. Bukan mati oleh persekusi.
Ketika publik mulai cerdas secara nalar. Simbiosis maut antara elite politik dan agamawan hipokrit itu akan kehilangan pasarnya. Publik yang cerdas akan menertawakan politisi yang masih menjual sentimen suku. Publik yang cerdas akan menuntut data program. Publik yang cerdas akan melihat kemunafikan seorang pemuka agama yang retorikanya tidak sinkron dengan tindakannya.
Kita telah membedah bagaimana pembusukan struktural (korupsi) hanya bisa hidup subur di atas lahan pembusukan intelektual (irasionalitas).
Hasilnya, jalan keluarnya hanyalah satu. Kita harus mereklamasi lahan itu. Kita harus mengeringkan rawa irasionalitas itu. Tanam kembali nalar. Hanya di atas fondasi nalar yang kokoh, kita bisa bicara tentang membangun ulang republik ini. Pekerjaan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang urgensial.
Komentar
Posting Komentar