Character Killers
Ketika mengamati hukum besi ini berulang kali di gelanggang politik dan sosial. Sosok yang paling ditakuti oleh penguasa status quo, para pejabat yang korup, para elite yang nyaman dalam kepalsuan, bukanlah musuh yang bersenjata. Yang paling mereka takuti adalah figur dengan integritas moral dan kapital simbolik yang tak terbantahkan juga berpengaruh. Seseorang yang suaranya didengar dan dipercaya publik karena kejujurannya. Menjadikannya ancaman subversif yang jauh lebih berbahaya daripada sepuluh batalyon tentara.
Maka, serangan terhadap figur kritis ini harus dilakukan secara sistematis. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan, bukan juga sekadar gossip murahan. Ini salah satj operasi intelijen naratif yang dingin, terstruktur, dan terencana.
Tujuan utama dari serangan ini bukanlah memenjarakan tubuh sang tokoh, hal itu adalah langkah terakhir. Tujuan utamanya adalah menghancurkan kredibilitas suaranya. Mereka melancarkan inversi narasi. Ketika kritik sang tokoh keras menyinggung korupsi pejabat atau kebobrokan sistem, aparatus kekuasaan tidak menjawab substansi kritikan itu. Hal ini terlalu jujur, terlalu berbahaya. Sebaliknya, mereka segera mengalihkan fokus publik.
Mereka mulai mencari cacat personal, mencari blunder yang bersifat manusiawi dari tokoh itu sendiri seperti pajak yang tidak lunas, utang lama yang diperbesar, kesalahan administrasi sepele, atau bahkan kontroversi masa lalu yang sudah lama dikubur. Mereka mencari kelemahan manusiawinya untuk dijadikan senjata.
Proses ini menjelma menjadi kriminalisasi nalar. Blunder personal itu kemudian dijadikan kasus lalu digoreng, dibesar-besarkan, dan diproses secara hukum. Aparatus penegak hukum, atau lembaga-lembaga pengawasan lain, digunakan sebagai alat gebuk yang bekerja rapi, tanpa perlu dipertanyakan motifnya. Sementara media korporat, yang sudah terkooptasi dalam sistem kebisingan, sibuk mengamplifikasi skandal personal yang sifatnya sangat banal. Yang tadinya adalah debat tentang ideologi dan hukum, kini direduksi menjadi tontonan gosip.
Publik dicekoki dengan sintesis kemuakan, mereka muak pada pejabat yang korup, tetapi kini mereka juga muak pada tokoh kritis karena skandal pribadinya yang direkayasa. Cara ini sangat sempurna untuk menciptakan ambiguitas dan secara efektif mematikan pesan kritisnya.
Apa konsekuensi dari operasi sistematis ini? Tentu saja, netralisasi si tokoh. Tapi dampak jangka panjangnya jauh lebih mengerikan. Operasi ini jadi salah satu cara meneror yang disamarkan sebagai penegakan hukum. Menciptakan suatu efek gentar (chilling effect) pada seluruh intelektual, mahasiswa, dan aktivis lain. Pesannya amat jelas dan brutal "Bicaralah jujur, dan kami akan membusukkanmu dari dalam, menggunakan kelemahan manusiawimu sendiri sebagai senjata untuk menghancurkanmu."
Operasi ini merupakan korosi publik terhadap kepercayaan. Membuat rakyat sinis terhadap semua suara kebenaran. Kesenjangan informasi yang sudah dibuka lebar-lebar itu, kini semakin diperparah oleh hilangnya otoritas moral dari orang-orang yang mencoba menutupnya.
Lantas, bagaimana perlawanan kita? Perlawanan kita tidak bisa hanya membela si tokoh secara personal. Perlawanan kita harus menjadi reflektif dan dialektis. Kita harus dilatih untuk memisahkan substansi pesan dari cacat sang pembawa pesan. Kita harus menolak untuk larut dalam drama skandal personal yang sengaja disajikan. Kita harus terus bertanya, apa isu substansi yang coba ditutup oleh skandal ini? Inilah satu-satunya cara untuk mematahkan senjata paling efektif dari penguasa status quo. Jangan lihat siapa yang menyampaikan pesan, tapi apa isi yang disampaikannya.
Komentar
Posting Komentar