Puisi-puisi

Beragam Puisi Risandi.

Solipsisme

di ujung spion tahun, 

wajahku: asing 

wajahmu: puing 

karena dogma 

karena dogma kita kunyah 

sarapan angka 

kenyang data 

tapi busung jiwa.

angka dan jiwa bersetubuh 

paksa melahirkan hamba 

yang lupa cara membaca tanda tanya.


Pasar 

pasar kaget demokrasi 

jual beli ayat dan mayat 

diskon moral obral akal 

—siapa yang menawar?— 

"aku!" teriak oligark "aku!" bisik si pandir 

mereka berebut ampas di meja makan yang dirampas.

lihat, tuan badut berdasi main akrobat di atas tali 

pusat rakyat jatuh tidak terkendali

tidak cuma nurani yang retak 

retak, meledak dan pabalatak.


Nadi 

malam bukan untuk tidur 

malam untuk mengukur seberapa dalam kubur 

yang kita gali dengan jempol sendiri.

di layar kaca: nabi palsu 

di meja makan: piring berdebu 

istriku, jangan tanam ilmu di tanah sengketa ini

tanamlah besi 

biar tumbuh jadi belati 

atau nyali 

atau nyali.

sebab mereka berkata yang punya kuasa 

tapi membonsai logikanya 

mesti kita tertawakan sampai gila.


Membatu 

jika batu ini menggelinding turun 

jangan kau maki bukitnya 

jangan kau ludahi takdirnya 

kita dorong lagi 

kita dorong lagi.

bukan karena patuh 

tapi karena kita utuh

menolak rubuh.

jika datang pembungkam 

bawa undang-undang hitam 

tiap gembok kita hantam 

kita hantam sampai malam paham: 

cahaya tak bisa dipadam.


Karat

di mimbar: nabi plastik berkotbah tentang detik

tapi jam tangannya mati

sudah mati sejak dia beli harga diri

pakai janji yang basi.

lihat, tuan kursi itu berkaki nanah siapa duduk,

pasti punah rasanya logikanya.

maka tahun ke tahun, jangan jadi umat yang manggut

pada dewa yang penakut.

kita kunyah besi

kita ludahkan sangsi

biar mereka ngerti: karat tak bisa makan hati yang sudah jadi api.


Sunyi

kau geser layar: kanan

aku geser layar: kiri

mencari-cari,

mencari-cari sepotong validasi

di tumpukan jerami imitasi.

sendiri itu bukan sepi,

nak sendiri itu strategi.

ketika sinyal mati 

kau justru hidup

hirup hirup udara yang tak disaring

oleh opini orang asing.

resolusiku sederhana: mematikan notifikasi dan menyalakan intuisi.


Balada Mesin

pagi buta kita diseret waktu

masuk ke rahang mesin

yang tak pernah bersin.

kau jadi mur aku jadi baut

mengunci struktur yang semrawut.

mereka bilang: "kerja adalah ibadah"

tapi upah cuma cukup buat beli lelah

dan mungkin cukup untuk sedikit kuah.

hei, sekrup kecil jangan mau cuma berputar

sekali-kali kau bergetar

longgarkan ikatan

bikin mesin itu gemetar

biar tuannya sadar: tanpa kita istananya cuma rongsokan.

 

Hikayat Lidah

kabar burung beranak ular menjalar

lewat kabel optik

masuk ke bilik otak yang panik.

fakta: yatim

piatu fiksi: punya seribu ibu.

orang-orang mabuk huruf saling lempar tafsir

sampai bibir terbakar pasir.

tahun depan, aku tak mau jadi toa yang gema tanpa nyawa.

aku mau jadi tanda tanya (?)

yang bengkok tapi menohok jantung dusta yang tegak sok gagah.


Epitaf Pembangkang

hidup ini, kawan cuma antrean pendek menuju kamar mayat 

jangan kau isi dengan taat pada aturan yang sesat.

jika malaikat datang mengetuk

jangan kau sedang merunduk

menyembah patung atau menghitung untung.

jadilah bising di dunia yang memaksa hening.

jadilah duri di daging tirani.

biar nanti di batu nisanmu tertulis:

"di sini tidur seorang manusia yang berani, terjaga saat dunia pura-pura lupa nan sunyi."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Pranala] Tenggelam di Lautan Data, Mati Kehausan Makna

Republika Nalar

Saka I: Akal Budi Pengetahuan