Cogito Ergo Sum: Masihkah Kita "Berpikir" Ada? Ada yang ganjil, bahkan terasa janggal secara fundamental, di udara yang kita hirup hari-hari ini. Di permukaan, kita hidup dalam karnaval kemajuan yang paling riuh. Kita menggenggam seluruh perpustakaan Aleksandria—bahkan lebih—dalam sebuah lempengan kaca dan logam di saku celana, sebuah portal sihir yang siap membuka gerbang menuju Wikipedia, jurnal ilmiah, dan semesta pengetahuan tanpa batas hanya dengan sekali usap. Kita terhubung secara digital dengan miliaran manusia dalam sebuah jaringan global yang tak pernah terbayangkan oleh filsuf paling optimis sekalipun. Namun, jika kita jujur pada diri sendiri di tengah keheningan malam, kita akan merasakan sebuah kehampaan besar. Mengapa di tengah akses tak terbatas ini, pikiran kita justru terasa lebih sesak dan terkunci dalam sebuah labirin gema? Kita terhubung dengan semua orang, namun mengapa kita justru semakin tuli pada suara yang berbeda, dan hanya merasa nyaman di dalam tem...
Komentar
Posting Komentar